RSS

LUNTURNYA BUDAYA JAWA

16 Sep

BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar belakang

Budaya jawa sebagai warisan leluhur yang adiluhung (agung) didalamnya terkandung berbagai macam pelajaran berkenaan dengan moral, meliputi sopan santun, budi pekerti dan tata kerama serta unggah-ungguh (etika) demikian sangat diunggulkan sebagai obor pedoman hidup sehari-hari.

Namun, sungguh semua itu hampir rapuh dan punah tersapu oleh masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian bangsa. Masyarakat saat ini telah dibutakan oleh gemerlapnya dunia sehingga dalam kesehariannya mereka sibuk menimbun kekayaan sehingga melupakan keluarga, yang akhirnya menjadikan generasi muda saat ini buta akan tata kerama dan etika.

 

Rumusan masalah

Berangkat dari latar belakang tersebut, maka dalam karya tulis ilmiah ini penulis akan mengungkap beberapa hal mengenai:

  1. Hakekat budaya Jawa dan nilai yang terkandung didalamnya
  2. Pergeseran nilai-nilai budaya Jawa di era globalisasi
  3. Upaya mengembangkan budaya Jawa

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Hakekat budaya Jawa

“Kebudayaan adalah satu sistim menyeluruh yang terbentuk oleh sejarah meliputi kehidupan manusia yang cenderung mempengaruhi pola hidup suatu kelompok”. (Clyde Kluchohn).

Sedangkan menurut Koentjadiningrat kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan melalui proses belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karya.

Budaya Jawa sebagai hakekat jati diri masyarakat jawa mempunyai karakteristik religius bertuhan,[1] non doktriner, toleransi dan akomodatif.[2]

  1. Religius bertuhan

Sebelum agama-agama besar masuk ke Jawa, masyarakat Jawa sudah mempunyai kepercayaan adanya Tuhan yang melindungi mereka, dan keberagamaan itu semakin berkualitas dengan masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Buddha, Islam dan Kristen. Yang menjadikan msyarakat jawa mempunyai toleransi keagamaan yang besar.

  1. Non Doktriner

Artinya, budaya jawa itu luwes (fleksibel),  karena sejak jaman dahulu masyarakat jawa berpendapat bahwa perbedaan aga yang masuk, sebenarnya hanya beda caranya saja untuk menuju pada terciptanya satu tujuan yang sama.

  1. Toleransi

Masyarakat Jawa selalu mengutamakan gotong royong, selain itu juga bisa menerima perbedaan pendapat dan menghormati pendapat orang lain.

  1. Akomodatif

Kebudayaan jawa selain penuh dengan pelajaran-pelajaran mengenai budi pekerti luhur, juga mau menerima masuknya budaya asing yang masuk yang sesuai dan bermanfaat bagi masyarakat.

Selain itu budaya Jawa juga syarat dengan penanaman moral dan tatanan unggah ungguh (etika) sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Hal ini dapat dilihat melalui filsafat orang jawa :

  1. “Aja ngomong waton, nanging ngomongo nganggo waton”.[3] Artinya “Jangan asal berbicara, tetapi bicaralah dengan menggunakan patokan atau alasan yang jelas”. Peribahasa tersebut, merupakan ajaran agar orang jawa dalam berbicara tidak hanya asal, namun juga bisa mempertanggung jawabkan apa yang dibicarakannya.
  2. “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”.[4] Artinya nilai pribadi terletak atau dapat dilihat dari cara berbicara, sedangkan nilai raga dapat dilihat dari cara berpakaiannya”. Pribahasa ini mengandung nasihat agar berhati-hati dalam berbicara, karena dari sinilah orang akan dinilai apakah dia termasuk oraang yang jujur, plin-plan, dsbg. Dalam hal berpakaian juga harus diperhatikan sehingga pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penutup aurat, melainkan juga sebagai tolak ukur penampilannya.

Dalam budaya jawa khususnya bahasa jawa terdapat pula tingkatan penggunaan bahasa meliputi ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu dan  krama alus. Hal ini menunjukkan bahwa budaya jawa syarat dengan ajaran-ajaran tata krama dan unggah ungguh yang mengatur hubungan masyarakat dalam hidup sehari-hari.

  1. Ngoko lugu, merupakan bahasa yang digunakan untuk berbicara antara bapak kepada anak, guru kepada murid, dengan lawan bicara yang sepadan, seumuran. Contoh: aku mangan roti (saya makan roti),
  2. Ngoko alus, merupakan bahasa yang digunakan untuk berbicara antara yang ibu dengan bapak, orang tua dengan yang lebih muda namun punya kedudukan yang tinggi, adik kepada kakak nya. Contoh: panjenengan pirsa apa durung? (kamu melihat atau tidak?),
  3. Krama lugu, merupakan bahasa yang digunakan untuk berbicara antara anak kepada orang tuanya, atau murid dengan gurunya. Contoh: simbah mirengaken radio (nenek mendengarkan radio),
  4. Krama alus, merupakan bahasa yang digunakan untuk berbicara antara anak kepada orang tuanya, atau murid dengan gurunya, dan kepada orang yang baru pertama kali dikenal. Contoh: sinten ingkang ngaturi panjenengan? (siapa yang memberi tahu anda?)
  1. Pergeseran nilai-nilai budaya Jawa di era globalisasi

Sesuai dengan kodratnya kebudayaan tidaklah statis tetapi akan berkembang dan mengalami perubahan menyesuaikan dengan tata kehidupan manusia menurut jamannya. Jadi kebudayaan itu tidak dapat menutup diri dari pengaruh luar dan akan mengalami pergeseran kebudayaan yang disebut dengan pergeseran nilai-nilai budaya.

Dewasa ini, di era globalisasi atau yang sering disebut dengan era pasar bebas, keadaannya sudah menghawatirkan terkait dengan terbukanya koridor-koridor budaya lokal akibat pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian bangsa meliputi bidang teknologi, komunikasi, transportasi dan pariwisata. Adanya hal ini mengancam eksistensi budaya lokal salah satunya budaya jawa.

Kedudukan budaya jawa sebagai warisan leluhur yang adiluhung saat ini seakan tidak ada nilainya, bahkan bagi masyarakat jawa sendiri. Generasi jawa seringnya tidak memiliki pengetahuan tentang budaya jawa, terlebih menerapkan nilai-nilai budaya jawa dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga terdapat ungkapkan “wong Jawa wis ora nJawani, wong Jawa wis ilang Jawane”. Hal ini dapat kita lihat melalui fenomena yang terjadi saat ini, bahwa umumnya masyarakat telah dibutakan oleh gemerlapnya dunia. Sehingga dalam hidupnya lebih disibukkan menimbun kekayaan dan mencari kedudukan atau jabatan.

Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa budaya jawa kini semakin luntur dan mingsed, dapat dilihat dari orang jawa saat ini melalui cara berpakaian, bercengkrama, tata krama dan budi pekertinya semakin tidak diperhatikan  atau bahkan sekarang tidak bisa dikendalikan lagi, bahwa orang jawa sekarang lebih terkesan seperti bukan orang jawa.

  1. Upaya mengembangkan budaya Jawa

Pergeseran nilai-nilai budaya Jawa di era globalisasi dapat diatasi dengan cara memadukan kebudayaan Jawa dengan program pemerintah yang berbunyi “Tri Karsa Budaya”, yaitu dengan melanjutkan menggali, membongkar dan mengembangkan kebudayaan Jawa sebagai warian generasi bangsa.[5] Adapun tujuan tersebut dapat dicapai jika:

  1. Masyarakat senantiasa membudidayakan budaya Jawa dengan menjunjung derajat bangsa dengan menumbuhkan semangat supaya generasi muda bangsa Indonesia bersama-sama mencari ilmu yang bermanfaat bagi diri pribadi dan kemajuan bangasa yang pada akhirnya menjadi generasi yang tanggap, terampil, semangat dan maju dalam bidang pengetahuan dan teknologi, yang senantiasa setia kepada nusa bangsa dan kebudayaan nasional, khususnya kebudayaan Jawa.
  2. Masyarakat bersama-sama dengan pemerintah mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia supaya bisa bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara dengan menyeleksi dan menolak masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan jatidiri dan keperibadian bangsa dan tidak sesuai dengan kemajuan jaman.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Budaya jawa sebagai warisan leluhur yang adiluhung didalamnya kaya akan pelajaran moral dan etika sebagai pedoman hidup sehari-hari saat ini semakin luntur oleh masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan jatidiri dan kepribadian bangsa termasuk didalamnya budaya Jawa.

Untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan memadukan budaya Jawa dengan program pemerintah. Yaitu dengan menggalang semangat generasi muda bersama-sama pemerintah mengembangkan kebudayaan nasional dan menyeleksi dan menolak budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian dan jatidiri bangsa Indonesia.

  1. SARAN
    1. Budaya Jawa sebagai warisan leluhur yang adiluhung hendaknya senantiasa dijaga dan dilestarikan dengan cara diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
    2. Generasi muda hendaknya belajar lebih banyak mengenai budaya Jawa
    3. Generasi muda dan masyarakat bersama dengan pemerintah hendaknya lebih bisa menjaga kebudayaan Jawa dari masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan jatidiri dan kepribadian bangsa.

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

DPP PERMADANI, Andhahan babagan kapermadanen, Materi kursus Bahasa Jawa Persatuan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia, Semarang, juli 2007

Haryana, Supriya, Kamus Unggah-Ungguh Basa Jawa, Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Santosa, Imam Budhi, nasihat nasihat orang jawa, Jogjakarta: DIVA Press, 2010.

Yusuf, Edy, Eksistensi budaya Jawa di era globalisasi, Disampaikan dalan even lomba pramuka IKIP PGRI Se-Jateng (Lomba Sabda Tama), Rabo, 23 Februari 2008.

Suwito, Yuwono Sri, “Jati diri dan krisi budaya”, http://inawan.multiply.com/journal/item/14/JATI_DIRI_DAN_KRISIS_BUDAYA.

 

[1] Yuwono Sri Suwito, “Jati diri dan krisi budaya”, http://inawan.multiply.com/journal/item/14/JATI_DIRI_DAN_KRISIS_BUDAYA.

[2] DPP PERMADANI. Andharan babagan kapermadanen, 2007

[3] Imam Budhi Santosa, Nasihat-nasihat hidup orang Jawa, (Jogjakarta: DIVA Press, 2010), hlm. 9

[4] Ibid, hlm. 11

[5] Edy Yusuf, Eksistensi budaya Jawa di era globalisasi, disampaikan dalan even lomba pramuka IKIP PGRI Se-Jateng (Lomba Sabda Tama), Rabo, 23 Februari 2008

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 16, 2014 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: