RSS
Sampingan
13 Des

SHOLAT ‘ID

 

Sholat ‘idain adalah sholat yang dikerjakan dua rakaat pada hari raya idul fitri dan idul adhha. Hukum sholat ‘id adalah sunnah, sebagaimana yang telah dilakukan oleh nabi saw. dan berdasar pada firman Allah swt: “Fa shalli li rabbika wanhar” yang artinya: “Sholatlah karena Tuhanmu dan berkorbanlah”.

Hukum sholat ‘idain menurut Imam Syafi’i adalah sunnah mu’akad, atau sunnah yang dianjurkan untuk mengerjakannya. Sedangkan menurut Abu Hanifah atau Imam Hanafi hukum sholat ‘idain adalah wajib ‘ain, artinya setiap pribadi yang mukallaf, wajib hukummnya untuk mengerjakannya. Berbeda lagi dengan Imam Hanbali, dalam madzhabnya sholat ‘idain hukumnya wajib kifayah yang jika salah seorang dari masyarakat tertentu sudah ada yang melaksanakannya, maka gugurlah kewajiban seluruh penduduknya. Dan menurut Imam Malik, sama dengan Imam Syafi’i hukum sholat ‘idain adalah sunnah hanya saja tidak sampai pada taraf mu’akad.

Hukum sunnah ini didasarkan pada salah satu hadits yang menyebutkan bahwa: “Selain sholat yang lima (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’) semuanya adalah sunnah”, termasuk sholat ‘idain. Meskipun dalam ayat “Fa shalli li rabbika wanhar” mengandung fi’il amr namun amr ini tidak berarti menjadikan sholat ‘idain dihukumi wajib. Inilah sebabnya Imam Syafi’i menghukumi sholat ‘idain dengan sunnah mu’akad.

Sholat ‘idain dikerjakan dua raka’at sebagaimana sholat jum’at, hanya saja ada beberapa hal yang berbeda:

  1. Waktu: sholad ‘idain dikerjakan sejak setelah terbitnya matahari, hingga tenggelamnya matahari. Adapun yang lebih utama adalah dikerjakan saat matahari sudah meninggi setinggi ujung tombak.
  2. Tempat: sholat ‘idain boleh dikerjakan ditanah lapang (sebagaimana yang pernah dikerjakan oleh nabi saw.) meskipun yang lebih utama dikerjakan didalam masjid, dikarenakan kemulyuaan masjid. Adapun diperbolehkannya mengerjakan sholat ‘idain ditanah lapang karena pada hari raya idul fitri dan idul adhha baik laki-laki, perempuan, tua, muda semuanya dianjurkan keluar rumah untuk mengikuti sholat ‘id. Berbeda dengan sholat jum’at yang harus dikerjakan pada sebuah bangunan, baik itu masjid atau bangunan semisal rumah, atau gedung.
  3. Cara mengerjakan: diawali dengan 7 x takbir pada rakaat pertama, dan 5 x takbir pada rakaat kedua. Disunnahkan pada sela-sela takbir membaca tasbih “Subhaanallah wal hamdu lillah wa laa ilaaha illallah wa allahu akbar”. Adapun 7x atau 5x takbir ini dihitung setelah takbir yang pertama (setelah membaca do’a iftitah sebelum mebaca ta’awudz dan fatihah).
  4. Tidak didahului dengan adzan dan iqomah. Sebagaimana dalam dijelaskan dalam hadits Muslim: “Dari Djabir, ia berkata: Tidak hanya satu kali atau dua kali aku ikut sholat ‘id bersama nabi saw. tidak pernah sekalipun ada adzan dan iqamah didalamnya.”
  5. Diawali dengan membaca takbir 9x pada khutbah pertama dan 7x pada khutbah kedua, takbir ini dibaca secara keras sebagai pembuka atau pendahuluan khutbah.

 

***

 

Syarakh Tuhfatuth Thullab {bab sholaatul ‘iidain}, hlm. 34 –Catatan ngaji bandongan Senin sore di Pon. Pes. Al-Hikmah Tugurejo Tugu Semarang, Senin, 09 Desember 2013

 

“Sholat ‘Idain”

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 13, 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: