RSS

“KEPURBAKALAAN PENINGGALAN HINDHU”

08 Jul

“KEPURBAKALAAN PENINGGALAN HINDHU”
LAPORAN KUNJUNGAN KE MUSEUM RONGGOWARSITO

Disusun guna memenuhi tugas penelitian mata kuliah
Islam dan Budaya Jawa
yang diampu oleh: M. Rikza Chamami, MSI

Disusun oleh:
Achmad Umar (103311001)
Siti Hana (103211045)
Ulfa Muth Mainnah (103211050)
Wiga Lutfiana (103211070)
Abdullah Mujib (113211014)
Jamaluddin (113211055)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2013

I. PENDAHULUAN
Sejarah mencatat, bahwa dalam perkembangannya, Islam di Indonesia tidak berjalan mulus. Sebelum akhirnya menjadi sebuah agama mayoritas dengan penganut sebesar 85 % dari penduduk Indonesia, para penyebar agama Islam harus menghadapi berbagai macam batu sandungan. Baik dari faktor alam berupa medan yang sulit dilintasi maupun faktor manusia berupa pertentangan dari rakyat maupun pemerintah yang berkuasa.
Adalah “Hindhu” sebuah agama yang lebih dahulu dianut Masyarakat Indonesia sebelum datangnya Islam. Hampir semua bagian wilayah Indonesia terjamah oleh agama ini. Tidak terkecuali pulau Jawa. Kurang lebih sejak 6 Abad yang lalu, Hindhu telah dianut oleh masyarakat setempat. Sebagai agama mayoritas pada masa itu, Hindhu memberikan pengaruh yang kuat terhadap kehidupan masyarakat Jawa, serta mewariskan berbagai bentuk peninggalan dan tradisi yang sampai saat ini masih banyak dilestarikan oleh masyarakat.
Tradisi Hindhu yang masih dilaksanakan masyarakat Jawa bisa ditemukan pada upacara-upacara keagamaan seperti sekaten, kesenian, seperti wayang kulit dan tari-tarian serta masih banyak lagi yang lainnya. Untuk benda-benda peninggalan Hindhu di Jawa, yang paling kentara adalah adanya bangunan candi-candi seperti candi Borobudur, candi Dieng, dan lain sebagainya.
Setelah Islam datang, posisi Hindhu pun tergeser dan perlahan mulai melemah. Ketika keberadaan Hindhu hanya tinggal sisa, barang-barang peninggalannya pun banyak yang menghilang atau terkubur. Barang barang tersebut kemudian ditemukan oleh Para sejarawan atau masyarakat umum, dan kemudian diabadikan dalam sebuah museum. Salah satu museum yang mengabadikan benda-benda peninggalan agama Hindhu adalah museum Ronggowarsito yang terletak di Jl. Abdulrahman Saleh No. 1 Semarang.
Dalam kunjungan ke museum Ronggowarsito pekan lalu, kelompok kami bertugas mengamati kepurbakalaan Hindhu yang ada di dalam museum. Berbagai replika arca peninggalan Hindhu terdapat di sana. Melalui laporan ini kami akan memaparkan hasil pengamatan kami secara leih lengkap. Selamat membaca.
II. RUMUSAN MASALAH
Apa saja peninggalan agama Hindhu yang terdapat di dalam museum?
III. PEMBAHASAN
HASIL PENGAMATAN DI MUSEUM RONGGOWARSITO
1. Arca Mahakala (Asal; Kab. Semarang)
Mahalaka merupakan salah satu aspek Siwa dalam bentuk Ugra (menyeramkan). Sebagai mahakala, peran Siwa adalah sebagai pembinasa/ penghukum. Mahakala disebut juga sang waktu, sang pembinasa atau sang pembunuh (The Great Black One).

2. Agastya Siwa Mahaguru (Asal; Kab. Semarang)
Merupakan perwujudan siwa dalam bentuk lain, yaitu seoang Resi, dia juga dikenal dengan nama “Betara Guru”. Agastya adalah orang yang sangat bijaksana, yang memperkenalkan Hindhu dan peradabannya ke India Selatan.
Agastya digambarkan sebagai orang tua, perut buncit, berkumis dan berjenggot. Pakaian yang dikenakan sederhana, laksana yang dipakai adalah kamandalu (kendi tempat air kehisupan/ amarta) dan trisula. Agastya diinterpretasikansebagai pemindahan gunung, seorang Resi anak dari Varna dan Urwasi, karena telah menyebarkan agama ke selatan, maka ia dianggap Siwa.

3. Arca Durgamahisȃsuramardini (Asal; Kab. Semarang)
Dalam mitologi Hindhu, ia dikenal sebagai Dewi yang menyeramkan. Durgamahisasuramardini merupakan aspek lain dari Sakti Siwa, Parwati/ Uma dalam bentuk Krodha (menyeramkan). Dalam peranannya, parvati hampir sama dengan Siwa.
4. Prasasti Temanggung (Asal; Kab. Temanggung)
Prasasti berbahan batu, berasal dari abad VIII M. Tulisan dengan bahan huruf dan bahasa Jawa kuno. Isi dari prasasti tersebut sebagai berikut;
Swasti saka warsatita 785 sada masa pancami kresnapaksa
Paniruan-wagai buda wara
Uttar sada nakstra sobha
Gya yoga tatkala pitama …. (pecah)
Wangkun wanusuk sima i……..
Panjang watak pikatan sang …
….t ma wamira iri kanang …
……………………
…. manuku anak wanuwa i …..

(Terjemahan; selamat tahun baru saka 785, bulan asada 5 saparo gelap paniruan wage hari rabu, bintang utara sada, bogya subagya pada waktu orang tua-tua di Wangkun menentukan daerah perdikan panjang, daerah pikatan………, ………saksi waktu itu ……………
………. Manuku penduduk desa di…………)
5. Arca Sri Wasudara (Asal; Kab. Batang)
Sri adalah salah satu dewi dalam pantoen hindhu dan merupakan sakti (istri) dari dewa wisnu. Biasanya Sri disebut dengan Sri-Laksmi dalam budha mahayana, Sri disebut dengan Wasudara istri dari Jambala (dewa kemakmuran) yang merupakan pelindung dan kemakmuran, maka Sri atau Wasudara juga memiliki peranan yang sama dengan Wisnu ataupun Jambala yaitu dewi kemakmuran.
6. Arca ganesha (Asal; Ds. Sawit. Kab. Boyolali, 11-06-1984)
Ganesha dalam Ikonografi (ilmu pengarcaan) umumnya umumnya digambarkan sebagai makhluk yang berbadan manusia dan berbadan gajah, berkepala gemuk, berperut buncit dan bergading satu.
Sebagai anak dewa Siwa, ganesha mempunyai beberapa jabatan dan laksana (tanda khusus yang dimiliki dewa). Jabatan tersebut diantaranya;
a. Sebagai kepala gana (gajah pasukan pengiring siwa), maka ia disebut ganapati
b. Sebagai dewa ilmu pengetahuan. Digambarkan dengan belalai yang menghisap mangkuk yang berisi ilmu pengetahuan, dan parasu (kapak) sebagai pemutus kebodohan.
c. Sebagai dewa penghalang rintangan/ penolak bala, disebut ‘vighvesvara’
d. Sebagai dewa perang, disebut ekadanta. Yang artinya yang bergading satu, yang didalam filosofinya ekadanta diartikan sebagai ‘zat tunggal yang kuat’. Ganesha kehilangan satu gadingnya ketika bertarung melawan parasutama (musuh para dewa). Oleh karena itu pada salah satu tangan ganesha memegang gading yang patah.
7. Prasasti Nandi (Asal; Kab. Batang)
Nandi merupakan aspek Siwa dalam bentuk theriomorphic, yaitu penggambaran tokoh dalam bentuk binatang, dalam hal ini adalah binatang lembu. Didalam Hindhu, binatang sering digambarkan dalam hubungannya sebagai ‘vahana’ dewa (kendaraan dewa).
Pada bagian dasar (lapik) arca nandi tersebut terdapat tulisan pendek/ prasasti menggunakan huruf dan bahasa Jawa kuno.
8. PRASASTI SAƞ PAMGAT SWAƞ
Prasasti yang berasal dari desa Jetak, Mungkid Kab. Magelang ditulis melingkar (3 baris) dibagian atas silinder menggunakan huruf dan bahasa Jawa kuno. Isi prasasti sebagai berikut;
Swasti saka warsatita 803 asujimasa ekadasi sukia paksa watuku kaliwuan sukraw’ra
Dhanista naksatra drtiamwata yoga tatkala saƞ pamgat swan man ma
(Terjemahan; selamat tahun baru saka, telah berjalan 803, bulalan asuji, tanggal 11 paro terang, warukung, kaliwuan hari jumat, bintang dhanista, onjungsi yoga, tarkala sang pamgat swang menetipkan sima).

9. Arca Wisnu (Asal : Pekalongan)
Wisnu digambarkan memegang siput (Sakha) dan cakra (lambang dunia), berkendaraan burung garuda (lambang dari kelepasan jiwa) dan beristeri dewi Laksmi/ Dewi Sri, dianggap sebagai dea padi/ kemakmuran.wisnu dapat menjelma ke dalam tiga wujud, yaitu: api, halilintar, dan sinar matahari. penjelmaaan ini melambangkan perjalanan matahari dari mulai terbit, mencapai cakrawala dan terbenam.

IV. ANALISIS BUDAYA JAWA
Dari peninggalan-peninggalan kepurbakalaan Hindhu yang ditemukan ditanah Jawa, menunjukkan bahwa Jawa pernah mengalami mutasi pertama atau yang disebut Indianisasi, mengingat bahwa agama Hindhu datang dari negara India. Selanjutnya Hindhu menjadi agama yang berkembang dan meninggalkan tradisi yang masih mengakar hingga saat ini. Beberapa contoh tradisi Hindhu yang masih melekat pada masyarakat Jawa adalah dalam bidang kesenian seperti pewayangan, tari-tarian, serat, dan lain sebagainya. Dalam bidang arsitektur, seperti gapura, pepunden, dan lain sebagainya. Dalam bidang politik, dikenal adanya kasta atau tingkat kedudukan dalam masyarakat. Terdapat tiga kasta dalam Hindhu, yaitu brahma, kesatria dan sudra, dan masih ada bidang lainnya.
Ketika Islam masuk ke tanah Jawa, maka ia harus menyesuaikan dengan tradisi yang berkembang dalam masyarakat setempat. Sehingga dari penyesuaian tersebut, saat ini bisa kita lihat hasil perpaduan antara Jawa Hindhu dan Islam dalam beberapa aspek sperti dalam bidang kesenian, jika pewayangan dalam Hindhu berkisah tentang Ramayana dan Mahabarata, dalam Islam kenudian wayang difungsikan sebagai sarana dakwah dengan cerita yang diambil dari babad, yakni mengkombinasikan cerita Ramayana dengan ajaran-ajaran Islam. Babad berupa prosa (gancaran) yang berisi riwayat dn sejarah seperti babad tanah Jawi, babad Demak dan lain-lain. Dalam bidang arsitektur, bangunan masjid yang ada pun mengikuti bentuk bangunan yang ada pada zaman Hindhu, bisa dilihat dari adanya gapura menuju masjid, menara, serambi, dan kubah yang merupakan salah satu corak arsitektur Hindhu.
Dengan adanya asimilasi Hindhu-Islam tersebut, maka Islam dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat Jawa karena mampu menyelaraskan dengan kebudayaan dan tradisi yang ada sebelumnya. Dari itu islam dapat bertahan dan berkembang sampai mampu menggeser posisi Hindhu hingga yang tertinggal hanya sisa-sisa kejayaannya di tanah Jawa.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan di musium ranggawarsito tentang kepurbakalaan peninggalan hindhu menunjukkan bahwa di dalam ajaran Hindhu dikenal adanya trimurti, yaitu tiga dewa utama agama Hindhu brahma, wisnu, dan siwa. Brahma sebagai dewa pencipta, wisnu sebagai dewa pemeliharaan, dan siwa sebagai dewa penyeimbang. Trimurti dilambangkan kedalam bentuk-bentuk arca. Selain trimurti didalam Hindhu juga dikenal adanya dewa-dewa pengiring dan dewa-dewa kendaraan, seperti ganesha, agastya dan durga, serta nandi dan garuda.
Brahma
Brahma digambarkan memiliki 4 muka (catur mukha), menggunakan kendaraan (vahana) berupa angsa putih, memiliki istri (cakti) bernama dewi saraswati yang dianggap juga sebagai dewa ilmu pengetahuan dan seni musik.
Wisnu
Wisnu digambarkan memegang siput (sakha) dan cakra (lambang dunia), berkendaraan burung garuda dan beristri dewi laksmi/dewi sri, dianggap sebagai dewa padi/kemakmuran. Wisnu dapat menjelma kedalam tiga wujud, yaitu api, halilintar, api, dan sinar matahari. Penjelmaan ini melambangkan perjalanan matahari dari mulai terbit mencapai cakrawala, dan terbenam.
Siwa
Diantara tiga dewa trimurti, siwa merupakan dewa yang paling banyak menerima persembahan, khususnya dikalangan masyarakat jawa. Banyak nama-nama yang diberikan dewa siwa, misalnya: siwa mahadewa, siwa nataraja, dan pasupati. Siwa memiliki atribut utama berupa tongkat sebagai lambang kematian, tombak bermata tigasebagai lambang hukum dan pada mahkotanya terdapat lambang kedewaan. Siwa juga menggunakan kendaraan, berupa lembu jantan sebagai lambag dharma dan beristri dewi uma/dewi parwati.
Ganesha
Ganesha dilambangkan sebagai dewa ilmu pengetahuan dan dewa perang. Arca ganesha dilambangkan sebagai makhluk yang berbadan manusia tapi berkepala gajah, perut buncit dan gading kanannya patah. Atribut-atributnya berupa tasbih, tali dan pada mahkotanya terdapat bulan sabit dan tengkorak. Sebagai dewa ilmu pengetahuan, belali gaensha digabarkan menghisap otak, sebagai lambang ilmu pengetahuan, pada mangkuk yang digenggam pada tangan kirinya.
Agastya
Agastya disebut juga siwa mahaguru, merupakan perwujudna siwa dalam bentuk seorang resi. Agastya juga dikenal dengan nama batara guru, seorang resi yang sangat bijaksana dan bertugs menyebarkan ajaran agama Hindhu dan peradabannya kearah selatan india. Agastya digmabarkan dengan ciri-ciri sebagai : orang tua berkumis dan berjenggot panjang, perut buncit dan membawa atribut tongkat dan tasbih. Ditangan kanan dan kendi berisi air suci, ditangan kiri.
Durga
Di dalam mitos klasik, Durga digambarkan sebagai dewi yang cantik, sakti dan mampu mengalahkan asura, yaitu musuh para dewa. Asura digambarkan sebgai kerbau jantan yang sedang marah. Durga diciptakan para dewa ketika kayangan diserbu oleh Asura. Atribut durga diantaranya berupa: pedang, tameng, anak panah, dan cakra. Senjata-senjata tersebut merupakan pemberian para dewa untuk menghadapi asura. Karena kemampuannya mengalahkan Asura, Durga sering disebut secara lengkap Durgamahisasuramardhini.
VI. PENUTUP
Dengan mengucap syukur ke hadirat Allah SWT, akhirnya laporan hasil kunjungan museum Ronggowarsito ini telah tunai kami sajikan. Ucapan terimakasih tak lupa kami sampaikan pada Bapak M. Rikza Chamami, MSI yang telah memberikan pengarahan dalam proses penggarapan laporan ini. Juga kepada seluruh anggota kelompok, Umar, Ulfa, Hana, Wiga, Mujib dan Jamal, terimakasih atas kerja keras dan kerjasama kalian. Semoga usaha kita bermanfaat dan membuahkan hasil yang maksimal.
Sebagai karya manusia, tentu laporan ini tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Untuk itu, kami senantiasa menanti berbagai kritik yang konstruktif dari pembaca, sebagai bentuk koreksi bagi karya-karya selanjutnya.

Semarang, 8 Juli 2013

Penyusun

Iklan
 
Komentar Dinonaktifkan pada “KEPURBAKALAAN PENINGGALAN HINDHU”

Ditulis oleh pada Juli 8, 2013 in Uncategorized

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: