RSS

PENGERTIAN, CAKUPAN DAN SIGNIFIKANSI ISLAM DAN BUDAYA JAWA

04 Mei

MAKALAH

ppt IBJ

PENGERTIAN, CAKUPAN DAN SIGNIFIKANSI ISLAM DAN BUDAYA JAWA

Dipresentasikan dalam mata kuliah

Islam dan Budaya Jawa

yang diampu oleh: M. Rikza Chamami, MSI

Disusun oleh:

Siti Hana  (103211045)

Ulfa Muth Mainnah  (103211050)

Wiga Lutfiana   (103211070)

Abdullah Mujib  (113211014)

 

 

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

TAHUN 2013

 

I.   PENDAHULUAN

Jawa merupakan sebuah pulau dan suku yang terdapat di Indonesia, yang meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta dan lain-lain dan setiap daerah mempunyai karakter budaya yang berbeda-beda. Masyarakat Jawa dipercaya memiliki kebudayaan khas dan berhubungan masyarakat Jawa menunjuk pada orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang-orang yang menjujung tinggi sifat-sifat luhur dan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Dalam konteks Indonesia kebudayaan Jawa merupakan salah satu kebudayaan lokal yang berpengaruh penting karena memiliki arti yang penting bagi masyarakat Jawa karena mayoritas masyarakat Jawa memeluk agama Islam dengan demikian hubungan nilai-nilai Islam dengan kebudayaan Jawa menjadi menarik karena keberadaan Islam.

Proses Islamisasi di Jawa yang dimotori oleh kaum sufi, telah membawa perubahan-perubahan dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat. Salah satu karakteristik orang Jawa adalah kebiasaan hidup dalam suasana mistis, mistik sebagai sikap hidup, pola piker dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari (Al-Payami, 1992:113). Dengan demikian kedatangan agama Islam yang membawa ajaran esoteric, mengajarkan mistik, tidak membuat masyarakat Jawa kaget dan gumun. Di sini terjadi pergumulan mistik Islam dengan mistik Jawa. Pada dasarnya bertemunya dua ajaran yang memiliki dasar dan ajaran berbeda. Bertemu dalam satu medium, terjadi proses saling mempengaruhi satu sama lain, yang akhirnya sama-sama menjadi sikap dan falsafah hidup.[1]

II.                RUMUSAN MASALAH

  1. Pengertian Islam, Kebudayaan Jawa
  2. Ciri-ciri Orang Jawa
  3. Tujuan Mempelajari IBJ

 

III.             PEMBAHASAN

A.    Pengertian Islam dan Kebudayaan Jawa

1. Pengertian Islam

Islam Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk Aslama-Yuslimu-Islaman yang artinya pasrah, tunduk. Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya .[2] Rasulullah SAW banyak menamakan beberapa perkara dengan sebutan Islam, misalnya: taslimu qalbi (penyerahan hati), salamatunnas minal lisan wal yad (tidak menyakiti oranglain dengan lisan dan tangan). Semua perkara ini disebut Rasulullah sebagai Islam, mengandung arti penyerahan diri, ketundukan dan kepatuhan yang nyata[3]. Dalam sebuah riwayat disebutkan tentang Islam, sebagaimana berikut:

الإسلامُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ وَ تُقِيْمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوْضَةَ وَ تَصُوْمَ رَمَضَانَ وَ تُحِجَّ الْبَيْتَ

Artinya: “Islam adalah engkau menyembah Allah dan tidak berbuat syirik kepada-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat yang diwajibkan, puasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah” (HR. Bukhari, Kitab Al-Iman, Bab Su’alu Jibril ‘an Nabi SAW ‘anil Iman wa Islam wa Ikhsan, no.50).[4]

Harun Nasution dalam bukunya Islam, ditinjau dari berbagai aspeknya menyebutkan, Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada ummat manusia melalui Nabi Muhammad SAW.[5] Dalam KBBI disebutkan bahwa Islam adalah agama yg diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. berpedoman pada kitab suci Alquran yg diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT[6].

Islam lahir di Makkah, ajaran Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul (utusan) Tuhan untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Islam sebagai agama adalah wahyu Allah yang ajarannya berisi perintah, larangan dan petunjuk untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat.

Setelah dipimpin oleh Nabi langsung dan di teruskan oleh sahabat-sahabatnya yang di juluki Khulafaur-Rasyidin, Islam mulai berkembang pesat akibat ekspansi yang dilakukan oleh daulah Islam setelahnya, seperti Bani Abbasiyah dan Umayyah. Ajaran Islam kemudian menyebar ke daerah–daerah luar jazirah Arab. Maka segera bertemu dengan berbagai peradaban dan budaya lokal yang sudah mengakar selama berabad–abad. Negeri-negeri yang sudah di datangi Islam seperti Mesir, Siria dan Negara Jazirah yang lain sudah lama mengenal filsafat Yunani, ajaran Hindu Budha, Majusi, dan Nasrani. Dengan demikian Islam yang tersebar senantiasa mengalami penyesuaian dengan lingkungan dan peradaban dan kebudayaan setempat, begitu pula yang terjadi di tanah Jawa.[7]

Islam dengan risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW adalah agama universal, ajarannya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan yang meliputi keimanan dan peribadatan, serta mengatur hubungan antara manusia dengan manusia dan lingkungannya yang disebut mu’amalah[8].

Adapun ciri-ciri Islam dapat dilihat dalam berbagai konsep yang dibawanya, yakni:

Pertama, Konsep teologi Islam yang di dasarkan pada prinsip tauhid sebagai konsep monotheisme dengan kadar paling tinggi. Konsep tauhid ini melahirkan wawasan kesatuan moral, kesatuan sosial, kesatuan ritual bahkan malah memberikan kesatuan identitas kultular.

Kedua, Konsep kedudukan manusia, dalam hubunganya dengan tuhan (hablum minallah), hubunganya dengan sesama manusia (hablum minannas), bahkan sesama makhluk, juga hubunganya dengan alam semesta. Hubungan-hubungan tersebut berada dalam jaringan kerja peribadatan dan kekhilafahan,yaitu fungsi ibadah dan fungsi khilafah.

Ketiga, konsep keilmuan sebagai bagian integratif dari kehidupan manusia. Wahyu perdana dari Al-Qur’an di samping membuat deklarasi kholaqol insan (Dia telah menciptakan manusia) juga mendeklarasikan alamal insan (Dia mengajarkan kepada manusia). Manusia ini selain di ciptakan oleh Allah,juga di beri kecerdasan ilmiah. Konsep ini ada kaitanya dengan janji Allah tentang Taskhiru ma fis samawati wa ma fil ardhi (apa yang ada di langit dan di bumi di peruntukan bagi manusia)

Keempat, Konsep ibadah dalam Islam. Disamping menyentuh aspek-aspek ritual, juga menyentuh aspek-aspek sosial dan juga aspek kultural[9].

2. Pengertian Kebudayaan Jawa dan Batasan Wilayahnya

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Budaya diartikan pikiran; akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju), sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah. Sedangkan Kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia spt kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat, keseluruhan pengetahuan manusia sbg makhluk sosial yg digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yg menjadi pedoman tingkah lakunya[10].

Menurut Koentjaraningrat (1980), kata kebudayaan berasal dari kata sansekerta budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat di artikan dengan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Sedangkan kata budaya merupakan perkembangan majemuk dari budi daya yang berarti daya dari budi. Sehingga di bedakan antara budaya yang berarti “daya dari budi” yang berupa cipta, rasa, karsa, dengan kebudayaan yang berarti hasil dari cipta, rasa, karsa[11].

Sedangkan menurut Clyde Kluchohn, kebudayaan adalah suatu sistem menyeluruh yang terbentuk oleh sejarah meliputi kehidupan manusia yang cenderung mempengaruhi pola hidup suatu kelompok[12].

Selanjutnya menurut konsep konsep B.Malinowske, kebudayaan di dunia mempunyai tujuh unsur universal yakni :

  1. Bahasa
  2. Sistem Teknologi
  3. Sistem mata pencaharia (ekonomi)
  4. Organisasi sosial
  5. Sistem pengetahuan
  6. Religi
  7. Kesenian[13].

Kebudayaan Jawa adalah kebudayaan masyarakat asli Jawa yang telah berkembang semenjak masa prasejarah. Sebagai halnya suku-suku sederhana lainnya budaya asli Jawa ini bertumpu dari religi animisme dan dinamisme. Dasar pikiran dalam religi animisme dan dinamisme bahwa dunia ini juga didiami oleh roh-roh halus termasuk roh nenek moyang dan juga kekuatan-kekuatan (daya-daya) ghaib[14].

Dari pengertian-pengertian di atas, dapat diambil kesimpulkan bahwa kebudayaan Jawa adalah sebuah sistem yang mencakup bahasa, sistem teknologi, mata pencaharian, organisasi sosial, corak berpikir, sistem kegamaan dan kesenian yang dianut dan dilestarikan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Sedangkan yang dimaksud dengan islam dan kebudayaan Jawa adalah ajaran islam yang berkembang dan berjalan selaras dengan kebudayaaan masyarakat Jawa.

Menurut R. Wordward ciri Islam Jawa adalah kecepatan dan kedalamannya mempenetrasi masyarakat Hindu-Budha yang paling maju (sopheisticated). Hal ini dapat dilihat dari muatan karya sastra yang berpatronase dengan keraton seperti serat salokajiwa karya Ranggawarsita dan serat centhini karya Pakubuwana V dan nilai-nilai sufisme; ritual sekatenan dikorelasikan dengan rekonstruksi sejarah islam jawa; ajaran-ajaran Islam dalam pewayangan, dan penekanan bentuk keberagaman yang mengedepankan kesalehan praktis pada masyarakat jawa.[15]

 

B.     Ciri-ciri Orang Jawa

Dalam antropologi budaya dikenal beragam suku dan budaya, salah satunya masyarakat atau suku Jawa. Masyarakat Jawa adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan ragam dialeknya secara turun-menurun. Suku bangsa Jawa adalah mereka yang bertempat tinggal di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, serta mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut. Secara geografis suku bangsa Jawa mendiami tanah Jawa yang meliputi: Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang, dan Kediri. Sedangkan di luar itu, dinamakan pesisir dan ujung timur. Surakarta dan Yogyakarta yang merupakan dua bekas kerajaan Mataram pada sekitar abad ke-XVI adalah pusat dari kebudayaan Jawa. Keduanya adalah tempat kerajaan terakhir dari pemerintahan Raja-raja Jawa.[16]

Suku Jawa merupakan salah satu suku terbesar yang berdiam di negara Indonesia. Suku Jawa hidup dalam lingkup budaya yang sangat kental, yang mereka gunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat, bahkan mulai dari kehamilan sampai kematian. Menurut Sujamto, 1997 budaya Jawa memiki empat ciri-ciri utama, yaitu;

  1. Religius

Sebelum agama-agama besar masuk ke Jawa, masyarakat Jawa sudah mempercayai kepercayaan adanya tuhan yang melindungi mereka, dan keberagaman agama itu semakin berkualitas dengan masuknya agama besar, seperti: Hindu, Budha Islam dan Kristen, yang menjadikan masyarakat Jawa mempunyai toleransi keagamaan yang besar.

  1. Non doktriner

Artinya budaya Jawa itu luwes (fleksibel), karena sejak zaman dahulu masyarakat Jawa berpendapat bahwa perbedaan agama yang masuk sebenarnya hanya berbeda caranya saja, untuk menuju pada tercapainya satu tujuan yang sama.

  1. Toleran

Masyarakat Jawa selalu mengutamakan gotong royong, selain itu juga bisa menerima perbedaan pendapat dan menghormati pendapat orang lain.

  1. Akomodatif

Kebudayaan Jawa selain penuh dengan pelajaran-pelajaran mengenai budi pekerti luhur juga mau menerima masuknya budaya asing yang masuk yang sesuai dan bermanfaat bagi masyarakat.[17]

Dari ciri-ciri budaya Jawa diatas, memberikan corak, sifat dan kecenderungan yang khas bagi orang Jawa yang antara lain adalah:

  1. Masyarakat Jawa identik dengan berbagai sikap sopan, segan, menyembunyikan perasaan alias tidak suka to the poin.
  2. Menjaga etika berbicara baik secara konten isi dan bahasa perkataan maupun objek yang diajak berbicara. Hal ini bisa terlihat dengan adanya strata (tingkatan) bahasa dalam suku jawa.
  3. Suku Jawa umumnya mereka lebih suka menyembunyikan perasaan. Menampik tawaran dengan halus demi sebuah etika dan sopan santun sikap yang dijaga.
  4. Narimo ing pandum adalah salah satu konsep hidup yang dianut oleh Orang Jawa. Pola ini menggambarkan sikap hidup yang serba pasrah dengan segala keputusan yang ditentukan oleh Tuhan. Orang Jawa memang menyakini bahwa kehidupan ini ada yang mengatur dan tidak dapat ditentang begitu saja.
  5. Ciri khas lain yang tak bisa di tinggalkan adalah sifat Gotong royong atau saling membantu sesama orang di lingkungan hidupnya apalagi lebih kentara sifat itu bila kita bertandang ke pelosok pelosok daerah suku Jawa di mana sikap gotong royong akan selalu terlihat di dalam setiap sendi kehidupannya baik itu suasana suka maupun duka.
  6. Dan, yang tidak dapat kita abaikan adalah sikap hidup orang Jawa yang menejunjung tinggi nilai-nilai positif dalam kehidupan. Dalam interaksi antar personal di masyarakat, mereka selalu saling menjaga segala kata dan perbuatan untuk tidak menyakiti hati orang lain. Mereka begitu menghargai persahabatan sehingga eksistensi orang lain sangat dijunjung sebagai sesuatu yang sangat penting. Mereka tidak ingin orang lain atau dirinya mengalami sakit hati atau terseinggung oleh perkataan dan perbuatan yang dilakukan sebab bagi orang Jawa, ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono artinya, harga diri seseorang dari lidahnya (omongannya), harga badan dari pakaian

 

C.    Tujuan Mempelajari IBJ

Dalam nilai kearifan warisan budaya Jawa yang diajarkan kepada kita menuntut untuk  pengkajian dan pemahaman akan budaya yang selama ini kita jalankan. Adapun tujuannya antara lain:

  1. Mengetahui bagaimana Islam yang ada di Jawa.
  2. Mengetahui isi kandungan ajaran Islam yang terdapat dalam budaya Jawa.
  3. Mengetahui pesan-pesan moral yang terkandung dalam kebudayaan jawa
  4. Menumbuhkan sikap arif dalam menyikapi berbagai jenis kebudayaan Jawa dan keberagaman ritual keagamaannya[18].
  5. Memotivasi masyarakat untuk menumbuhkan rasa kesadaran kebudayaan.
  6. Mengetahui hal-hal yang ada dalam sejarah masyarakat Jawa dan kebudayaan yang dibangunnya, serta pengaruh yang ditimbulkan terhadap ajaran Islam yang sudah sejak lama mendiami dan berasimilasi satu sama lain
  7. Menumbuhkan spiritualisme, mendorong masyarakat untuk mengimbangi derasnya arus konsumerisme budaya tersebut  dalam era globalisasi melalui peningkatan pendidikan dan keimanan

D.    KESIMPULAN

Islam berasal dari bahasa Arab Aslama-Yuslimu-Islaman yang artinya pasrah, tunduk sedangkan secata istilah, Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada ummat manusia melalui Nabi Muhammad SAW.

Kebudayaan berasal dari kata budaya yang berarti pikiran. Kebudayaan Jawa adalah sebuah sistem yang mencakup bahasa, sistem teknologi, mata pencaharian, organisasi sosial, corak berpikir, sistem kegamaan dan kesenian yang dianut dan dilestarikan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Sedangkan yang dimaksud dengan islam dan kebudayaan Jawa adalah ajaran islam yang berkembang dan berjalan selaras dengan kebudayaaan masyarakat Jawa.

Budaya Jawa memiliki ciri-ciri Religius, Non doktriner, Toleran, Akomodatif, Optimistic. Hal ini membawa masyarakat Jawa memiliki corak, sifat dan kecenderungan yang khas, yakni identik dengan sikap sopan, segan, tidak menampakkan perasaan secara langsung, senantiasa menjaga sopan santun, nerimo ing pandum, gotong royong, dan senantiasa menejunjung tinggi nilai-nilai positif dalam kehidupan.

Dengan mempelajari Islam dan Budaya Jawa, diharapkan mampu mengetahui hal-hal yang ada dalam sejarah masyarakat Jawa dan kebudayaan yang dibangunnya, mengetahui isi kandungan ajaran Islam yang terdapat dalam budaya Jawa, mengetahui pesan-pesan moral yang terkandung dalam kebudayaan jawa, dan menumbuhkan sikap arif dalam menyikapi berbagai jenis kebudayaan Jawa dan keberagaman ritual keagamaannya.

 

E.     PENUTUP

Demikian makalah yang dapat pemakalah sajikan. Kekurangan dan kelemahan dalam makalah adalah suatu keniscayaan dan menjadi sifat dasar manusia yang jauh dari sempurna. Maka, masukan, sanggahan, dan kritik konstruktif sangat penulis harapkan demi perbaikan makalah ini di masa mendatang.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Chamami, M. Rikza, Studi Islam Kontemporer, Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2012.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga.  Jakarta: Balai Pustaka, 2005.

Hana, Siti, Makalah Pergeseran Nilai-Nilai Budaya Jawa Di Era Globalisasi, Semarang: IAIN Walisongo, 2010.

Hasan, Muhammad Tholhah, Islam dalam Perpektif Sosio Kultural, Jakarta: Lantabora Press. 2004.

Khalim, Samidi, Islam dan Spiritualitas Jawa, Semarang: RaSAIL Media Group, 2008,

M, Hariwijaya, Islam Kejawen, Yogyakarta : Gelombang Pasang, 2006,  cet II,

Nasution, Harun, Islam, ditinjau dari berbagai aspeknya, Jilid 1. Jakarta: Bulan Bintang, 1974

Simuh, Keunikan Interaksi Islam Dan Budaya Jawa,

Sualiman, M, Munandar, Ilmu Budaya Dasar, Bandung; Rosda Offset, 1988.

Syukur, M. Amin, Pengantar Studi Islam, Semarang: Pustaka Nuun, 2010

Tim Ahli Tauhid, Kitab Tauhid 2, Jakarta: Yayasan Al-Sofwa, 2001.

Arti Islam Etimologis dan Terminologis, http://pusdai.wordpress.com/2008/11/12/arti-islam-etimologis-terminologis/

Suwito, Yuwono Sri Jati Diri dan Krisis Budaya, http://inawan.multiply.com/journal/item/14/JATI_DIRI_DAN_KRISIS_BUDAYA.

Yati, Tujuan Belajar Islam Budaya Jawa,  http://yatiriyan.blogspot.com/2013/01/tujuan-belajar-islam-budaya-jawa-tujuan_13.html, diakses 26 Maret 2013

 

 

 

BIODATA PEMAKALAH

 

Nama                         SITI HANA  : Siti Hana

Nim                             : 103211045

Jurusan/prodi          : PBA

TTL                             : Demak, 20 Oktober 1992

Pendidikan               : MI Al-Hadi 03, SMP Ky Ageng Giri Mranggen, SMA Ky Ageng Giri Mranggen

Alamat                       : Girikusumo,RT 04/03, Banyumeneng, Mranggen, Demak 59567

Nomor Tlp.               : 085641870466

Email                         : hansmail17@yahoo.com

Fb                               : Siti Hana

Motto Hidup            : Jika kau tak mampu berlaku baik, maka jangan berbuat jahat

Nama                           : Ulfah Muth Mainnah

Nim                             : 103211050

Jurusan/prodi          : PBA

TTL                             : Bekasi, 24 April 1990

Pendidikan                : MI Islamiyah Podorejo, SMP Hasanuddin 07 Podorejo, MA Ar-Risalah Ponorogo

Alamat                        : Podorejo, Rt 01/010, Ngaliyan, Semarang

Nomor Tlp.                : 085642685390

Email                           : ulfa.muthmainnah629@gmail.com

Fb                                : Ashla Syifa

Motto Hidup               : be the master of your destiny

Nama                 wigana          : Wiga Lutfiana

Nim                             : 103211070

Jurusan/prodi          : PBA

TTL                             : Wonosobo, 24 Juni 1992

Pendidikan               : MI Ma’arif Serang Sari, SMP N 1 Kejajar, SMA N 1 Wonosobo

Alamat                       : Gemblengan, Garung, Wonosobo

Nomor Tlp.               : 085643277668

Email                          : san_lumphianoz@yahoo.com

Fb                                : Wigana Lumphiana

Motto Hidup             : positif thinking

Nama                           : Abdullah Mujib

mujibNim                             : 113211014

Jurusan/prodi          : PBA

TTL                             : Demak, 18 Juli 1993

Pendidikan               : MI TBS II Kudus, MTs TBS Kudus, MA TBS Kudus

Alamat                      : Karanganyar, Karanganyar, Demak

Nomor Tlp.              : 085879892509

Email                        : moe_djieb@yahoo.com

Fb                              : Abdullah Ennerazzury (http://www.facebook.com/abdullah.ennerazzury?fref=ts)

Motto Hidup           : Maca Sholawat

 


[1] Samidi Khalim, Islam dan Spiritualitas Jawa, Semarang: RaSAIL Media Group, 2008, hlm.vii

[3] Tim Ahli Tauhid, Kitab Tauhid 2, (Jakarta: Yayasan Al-Sofwa, 2001), hlm. 11

[4] Ibid, hlm. 11

[5] Harun Nasution, Islam, ditinjau dari berbagai aspeknya, Jilid 1. Jakarta: Bulan Bintang, 1974, hlm. 17

[6] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga.  Jakarta: Balai Pustaka, 2005, hlm. 444

[7] Hariwijaya M, Islam Kejawen, (Yogyakarta : Gelombang Pasang, 2006), cet II, hlm. 165-166

[8] Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA, Pengantar Studi Islam, Semarang: Pustaka Nuun, 2010, hlm. 30

[9] Muhammad  Tholhah Hasan,, Islam dalam Perpektif  Sosio Kultural, Jakarta: Lantabora Press, 2004, hlm 4-5

[10] Departemen Pendidikan Nasional, Op.Cit, hlm. 169

[11] Sualiman, M, Munandar, Ilmu Budaya Dasar, (Bandung; Rosda Offset, 1988),  hlm. 21

[12] Yuwono Sri Suwito, Jati Diri dan Krisis Budaya,

http://inawan.multiply.com/journal/item/14/JATI_DIRI_DAN_KRISIS_BUDAYA.

[13] Sualiman, M, Munandar,Op.Cit, hlm. 22-23

[14] Prof. Dr. Simuh, Keunikan Interaksi Islam Dan Budaya Jawa, hlm. 6

[15] M. Rikza Chamami, Studi Islam Kontemporer, (semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2012), hlm. 178

[16] Samidi Khalim, Op.Cit, hlm. 4

[17] Siti Hana, Makalah Pergeseran Nilai-Nilai Budaya Jawa Di Era Globalisasi, Semarang: IAIN Walisongo, 2010. hlm. 2-3

[18] Yati, Tujuan Belajar Islam Budaya Jawa,  http://yatiriyan.blogspot.com/2013/01/tujuan-belajar-islam-budaya-jawa-tujuan_13.html, diakses 26 Maret 2013

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 4, 2013 in makalah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: