RSS

MOTIVASI BELAJAR

29 Apr

MOTIVASI BELAJAR

 

MAKALAH

Disusun guna memenuhi tugas

Mata kuliah : Psikologi Pendidikan

Dosen pengampu : Nikmah Rahmawati, M.Si

Disusun Oleh:

Anni Nur Bannah (103211053), Siti Asmaul Husnah (103211044), Siti Hana (103211045), Sumarno (103211046), Winhatuz Zahro’  (103211051)

 

 

 JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2011

I.          PENDAHULUAN

Apa saja yang diperbuat manusia, yang penting maupun yang kurang penting, yang berbahaya maupun yang tidak mengandung resiko, selalu ada motivasinya.

Juga dalam soal belajar, motivasi itu sangat penting. Motivasi adalah syarat mutlak untuk belajar. Disekolah seringkali terdapat anak yang malas, tidak menyenangkan, suka membolos, dan sebagainya. Dalam hal demikian, berarti bahwa guru tidak berhasil memberikan motivasi yang tepat untuk mendorong agar ia bekerja dengan segenap tenaga dan pikirannya. Dalam hubungan ini perlu diingat, bahwa nilai buruk pada suatu mata pelajaran tertentu belum tentu berarti bahwa anak itu bodoh terhadap mata pelajaran tersebut. Seringkali terjadi seorang anak malas terhadap suatu mata pelajaran, tetapi sangat giat dalam mata pelajaran yang lain.[1]

Motivasi merupakan pendorong bagi perbuatan seseorang. Ia menyangkut soal mmengapa seseorang berbuat demikian dan apa tujuannya sehingga ia berbuat demikian. Untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut, mungkin harus mencari apa yang mendorongnya (dari dalam) dan atau perangsang atau stimulus (faktor luar) yang menariknya untuk melakukan suatu perbuatan. Mungkin ia didorong oleh nalurinya, atau oleh keinginannya memperoleh kepuasan, atau mungkin juga karena kebutuhan hidupnya yang sangat mendesak.[2]

II.       RUMUSAN MASALAH

  1. Pengertian Motivasi dan Motivasi Belajar
  2. Teori Motivasi
  3. Jenis dan Sifat Motivasi
  4. Peran Motivasi

 

III.    PEMBAHASAN

A.       Pengertian Motivasi dan Motivasi Belajar

Kata motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti “bargerak” yang dimaksudkan sebagai “bergerak untuk maju”. Dalam konteks organisasi dijelaskan Hasibuan (1991:183) sebagai suatu keahlian dalam mengarahkan pegawai dan organisasi agar mau bekerja secara berhasil, sehingga tercapai keinginan para pegawai sekaligus tercapainya tujuan organisasi.[3]

Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah.[4]

Motivasi terbentuk oleh tenaga-tenaga yang bersumber dari dalam dan luar diri individu. Terhadap tenaga-tenaga tersebut para ahli memberikan istilah yang berbeda, seperti: desakan atau drive, motif atau motive, kebutuhan atau need dan keinginan atau wish. Walaupun ada kesamaan dan semuanya mengarah pada motivasi beberapa ahli memberikan arti khusus terhadap hal-hal tersebut. Desakan atau drive diartikan sebagai dorongan yang diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah. Motif atau motive adalah dorongan yang terarah kepada pemenuhan kebutuhan psikis atau rokhaniah. Kebutuhan atau need merupakan suatu keadaan di mana individu merasakan adanya kekurangan, atau ketiadaan sesuatu yang diperlukannya. Keinginan atau wish adalah harapan untuk mendapatkan atau memiliki sesuatu yang dibutuhkan. Walaupun ada variasi makna keempat hal tersebut sangat bertalian erat dan sukar dipisahkan, dan semuanya termasuk suatu kondisi yang mendorong individu melakukan kegiatan, kondisi tersebut itulah yang disebut motivasi.[5]

Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu.[6] Dalam proses belajar, motivasi berarti segala sesuatu yang dapat mendorong dan mempertahankan semangat siswa dalam belajar. Siswa yang termotivasi untuk mempelajari sesuatu menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari, menyerap dan mengingat lebih banyak darinya. Jadi tugas penting bagi guru adalah merencanakan bagaimana mereka nantinya mendukung motivasi siswa.[7]

 

B.       Teori Motivasi

Ada beberapa macam teori motivasi, salah satu teori yang terkenal kegunaannya untuk menerangkan motivasi siswa adalah yang dikembangkan oleh Abraham Maslow (1943,1970). Maslow percaya bahwa tingkah laku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu[8]. Maslow mengidentifikasi kebutuhan ini kedalam dua jenis:

  1. Kebutuhan kekurangan (deficiency needs)

Yaitu kebutuhan yang penting bagi kesejahteraan fisik dan psikologis, kebutuhan ini harus dipuaskan, tetapi begitu setelah terpuaskan, motivasi untuk memuaskannya hilang.[9] Kebutuhan ini meliputi:

a)        Kebutuhan Fisiologis

Merupakan kebutuhan manusia paling dasar, meliputi kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat berlindung, dan yang paling penting untuk mempertahankan hidup.

b)        Kebutuhan Keselamatan (safety)

Yaitu kebutuhan kepastian keadaan lingkungan yang dapat diramalkan. ketidakpastian, ketidakadilan, keterancaman, akan menimbulkan kecemasan dan ketakutan pada diri individu.[10]

c)        Kebutuhan Hubungan dan Cinta

Merupakan kebutuhan afeksi dan pertalian dengan orang lain.

d)       Kebutuhan Harga Diri

Merupakan kebutuhan rasa berguna, penting, dihargai, dikagumi, dihormati oleh oranglain. Secara langsung ini merupakan kebutuhan perhatian, ketenaran, status, martabat, dan sebagainya.

  1. Kebutuhan pertumbuhan (growth needs)

Yaitu kebutuhan untuk mengetahui dan memahami sesuatu, untuk menghargai keindahan, atau untuk bertumbuh dan berkembang dengan dihargai orang lain. Kebutuhan ini tidak pernah  dipuaskan seluruhnya, bahkan, makin sanggup orang memenuhi kebutuhan mereka untuk mengetahui dan mamahami dunia disekeliling mereka, motivasi mereka mungkin akan menjadi makin besar untuk mempelajari lebih banyak lagi.[11]  Kebutuhan pertumbuhan ini meliputi:

a)        Kebutuhan untuk Mengetahiu dan Memahami

Yaitu kebutuhan manusia untuk memuaskan rasa ingintahunya, untuk mendapatkan pengetahuan, untuk mendapatkan keterangan-keterangan, dan untuk mengerti sesuatu.

b)        Kebutuhan Estetik

Kebutuhan ini dimanifestasikan sebagai kebutuhan akan keteraturan, keseimbangan, dan kelengkapan dari suatu tindakan.

c)        Kebutuhan Aktualisasi Diri (self-actualization)

Yaitu kebutuhan manusia untuk mengembangkan diri sepenuhnya, merealisasikan potensi-potensi yang dimilikinya.[12] Aktualisasi diri dicirikan oleh penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain, spontanitas, keterbukaan, hubungan yang relatif mendalam tetapi demokratis dengan orang lain, kretivitas, humor, dan kebebasan-pada dasarnya, kesehatan psikologis.[13] Menurut Maslow, aktualisasi diri dimungkinkan hanya setelah kebutuhan yang lehih rendah terpenuhi.

 

C.       Jenis dan Sifat Motivasi

  1. Motivasi primer

Motivaasi primer adalah motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar. Moitf-motif dasar tersebut umumnya berasal dari segi biologis atau jasmani. manusia adalah makhluk berjasmani, sehingga perilakunya terpengaruh oleh insting atau kebutuhan jasmaninya. Mc dougall, berpendapat  bahwa tingkah laku terdiri dari pemikiran tentang tujuan, perasaan subjektif, dan dorongan mencapai kepuasan.[14]

  1. Motivasi sekunder

Motivasi sekunder adalah motivasi yang dipelajari. Para ahli membagimotivasi sekunder tersebut menurut pandangan yang berbeda-beda. Thomas dan znaniecki menggolongkan motivasi sekunder menjadi: keinginan-keinginan memperoleh pengalaman baru, untuk mendapat respon, memperoleh pengakuan dan memperoleh rasa aman. Mc cleland menggolongkannya menjadi: kebutuhan untuk berprestasi, memperoleh kasih sayang dan memperoleh kekuasaan.[15]

  1. Sifat Motivasi

Motivasi diri timbul dan berkembang terdapat dalam dua dasar utama yakni : motivasi intrinsik dan ekstrinsik.

  1. Motivasi instrinsik

Motivasi instrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).[16]  Dalam hal ini berarti keadaan yang berasal dari dalam diri siswa  yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Termasuk dalam motivasi instrisik siswa adalah perasaan menyenangi materi tersebut, misalnya untuk kehidupan masa depan siswa yang bersangkutan.[17]

Motivasi ini terbentuk karena beberapa hal, di antaranya adalah:

1)      Adanya Kebutuhan

Tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun psikis.

2)      Adanya Cita-Cita

Selanjutnya pendorong yang mempunyai pengaruh besar adalah adanya cita-cita. Cita-cita merupakan pusat bermacam-macam kebutuhan-kebutuhan, artinya kebutuhan-kebutuhan itu biasanya direalisasikan di sekitar cita-cita itu. Sehingga cita-cita tersebut mampu memberikan energi kepada anak untuk melakukan sesuatu aktifitas belajar.

3)      Keinginan Tentang Kemajuan Dirinya

Di dalam proses belajar, motivasi memang memegang peranan penting. melalui aktualisasi diri pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Keinginan dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan diri seseorang. Keinginan dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu.

4)      Minat

Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan kalau disertai dengan minat.
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan anatara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.[18]

 

  1. Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan sekolah, suri teladan orang tua, guru dan seterusnya merupakan contoh-contoh konkrit motivasi ekstrinsik.

Motivasi ekstrinsik ini terbentuk karena beberapa hal, diantaranya adalah:

1)        Pemberian Hadiah

Hadiah merupakan alat pendidikan yang bersifat positif dan fungsinya sebagai alat pendidik represif positif. Hadiah juga merupakan alat pendorong untuk belajar lebih aktif. Motivasi dalam bentuk hadiah ini dapat membuahkan semangat belajar dalam mempelajari materi-materi pelajaran.

2)        Kompetensi

Saingan atau kompetensi dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong belajar anak, baik persaingan individu maupun kelompok dalam rangka meningkatkan prestasi belajar anak. Memang unsur persaingan itu banyak digunakan dalam dunia industri dan perdagangan, tetapi sangat baik jika digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar anak.

3)        Hukuman

Hukuman merupakan pendidikan yang tidak menyenangkan, alat pendidikan yang bersifat negatif, namun demikian dapat menjadi alat motivasi atau pendorong untuk mempergiat belajar anak. Anak akan berusaha untuk mendapatkan tugas yang menjadi tanggung jawanya, agar terhindar dari hukuman.

Sebelum hukuman diberikan, hendaknya pendidikan atau orang tua mengetahui tahapan-tahapan

a)    Pemberitahuan

b)   Teguran

c)    Peringatan

d)   Hukuman.

4)        Pujian

Pujian (Reinforcement) merupakan bentuk motivasi yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Apabila anak berhasil dalam kegiatan belajar, pihak keluarga perlu memberikan pujian pada anak. Positifnya pujian tersebut dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan prestasi, akan tetapi pujian yang diberikan kepada anak tidak berlebihan.

 

D.       Peranan Motivasi dalam Belajar

Motivasi sangat berperan dalam belajar. Dengan motivasi siswa menjadi tekun belajar, dan dengan motivasi pula kualitas belajar akan mencapai hasil yang maksimal. Siswa yang dalam proses belajar mempunya motivasi yang kuat dan jelas pasti akan tekun dan berhasil belajarnya. Kepastian itu dimungkinkan oleh sebab adanya ketiga fungsi motivasi sebagai berikut :

  1. Pendorong orang untuk berbuat dalam mencapai tujuan.
  2. Penentu arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai.
  3. Penyeleksi perbuatan sehingga perbuatan orang yang mempunyai motivasi senantiasa selektif dan tetap terarah kepada tujuan yang ingin dicapai.

Berdasarkan fungsi motivasi di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi itu bukan hanya berfungsi sebagai penentu arah terjadinya suatu perbuatan tetapi juga merupakan penentu hasil perbuatan. Sejalan dengan arti dan fungsi motivasi tersebut, dalam agama Islam ada sejenis motivasi yang arti dan fungsinya sama, yaitu “niat”. Seperti  yang dikemukakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits : “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya”.

Dengan demikian niat sama dengan motivasi yang akan mendorong orang untuk bekerja atau melakukan suatu perbuatan dengan sungguh-sungguh dan selanjutnya niat atau motivasi pula yang akan menentukan balasan sebagai hasil perbuatan.[19]

Motivasi bukan hanya berperan penting dalam mengupayakan siswa terlibat ke dalam kegiatan akademis. Motivasi juga berperan penting dalam menentukan seberapa banyak akan dipelajari siswa dari kegiatan yang mereka lakukan atau informasi yang dihadapkan pada mereka.[20]

 

IV.    KESIMPULAN

Motivasi merupakan proses internal yang mengaktifkan, menuntun, dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Maslow mengidentifikasikan dua jenis kebutuhan: (1) Kebutuhan kekurangan(deficiency needs) meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan keselamatan (safety), kebutuhan hubungan dan cinta, dan kebutuhan harga diri. (2) Kebutuhan pertumbuhan (growth needs)  meliputi kebutuhan untuk mengetahui dan memahami, kebutuhan estetik, dan kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization).

Berdasarkan jenisnya, motivasi terbagi menjadi: (1) Motivaasi primer yaitu motivasi yang didasarkan pada motif-motif dasar dan (2) Motivasi sekunder yaitu motivasi yang dipelajari. Sedangkan berdasarkan sifatnya, motivasi bisa berupa: (1) Motivasi instrinsik yaitu motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). (2) Motivasi ekstrinsik yaitu hal dan keadaan yang datang dari luar individu.

Motivasi bukan hanya berperan penting dalam mengupayakan siswa terlibat ke dalam kegiatan akademis. Motivasi juga berperan penting dalam menentukan seberapa banyak akan dipelajari siswa dari kegiatan yang mereka lakukan atau informasi yang dihadapkan pada mereka.

 

V.       PENUTUP

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, puji syukur pemakalah panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan pemakalah kenikmatan sehingga mampu menyelesaikan makalah ini dengan lancar. Pemakalah menyadari dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan baik teknis penulisan maupun materi, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat pemakalah harapkan guna perbaikan makalah selanjutnya, khususnya dari dosen pengampu Psikologi Pendidikan, Ibu Nikmah Rahmawati, M.Si. Harapan pemakalah, semoga makalah yang sederhana ini bisa bermanfaat bagi pemakalah pribadi dan juga para pembaca, Amin.

 
 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 1999.

Engkoswara, dan Aan Komariyah, Administrasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2010.

Mahmud, Psikologi Pendidikan, Bandung, Pustaka Setia : 2011.

Purwanto,  Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung, Remaja Rosdakarya: 2011.

Sabri, Alisuf, Psikologi Pendidikan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2010.

Santrock, Jhon W., Educational Psychology, 2nd Edition, terj: Tri Wibowo B.S., Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua, Jakarta: Kencana, 2010.

Slameto, Belajar & Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta; Rineka Cipta, 2010, edisi 5.

Slavin Robert E., Educational Psychology : Theory and Practice eighth edition,  terj: Drs. Marianto Samosir, S. H, Psikologi pendidikan : Teori dan praktik edisi kedelapan jilid 2, Jakarta : Indeks, 2006.

Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009.

Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000.


[1] Drs. M. Ngalim Purwanto, M.P., Psikologi Pendidikan, (Bandung, Remaja Rosda Karya: 2011), hlm. 60-61.

[2] Ibid. Hmn. 81

[3] H. Engkoswara, dan Aan Komariyah, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 209

[4] Dr. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 134

[5]Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009),  hlm. 61

[6] Robert E. Slavin, Educational Psychology : Theory and Practice eighth edition,  terj: Drs. Marianto Samosir, S. H, Psikologi pendidikan : Teori dan praktik edisi kedelapan jilid 2, (jakarta : Indeks, 2006), hlm. 105

[7] Ibid., hlm. 106

[8] Drs. Slameto, Belajar & Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta; Rineka Cipta, 2010), edisi 5, hlm.171

[9] Robert  E. Slavin, Op. Cit., hlm. 109

[10] Drs. Slameto, Op.Cit.

[11] Robert  E. Slavin, Op. Cit., 109

[12]Drs. Slameto, Op.Cit.

[13] Robert  E. Slavin, Op. Cit.,hlm. 109-110

[14] Dr. Dimyati dan Drs. Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 1999) hlm. 86-87

[15] Ibid. hlm. 88

[16] Jhon W. Santrock, Educational Psychology, 2nd Edition, terj: Tri Wibowo B.S., Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua, (Jakarta: Kencana, 2010),  hlm. 514

[17] Dr. H. Mahmud, M.S.I, Psikologi Pendidikan, (Bandung, Pustaka Setia : 2011) hlm.100

[18] Drs. Slameto, Op.Cit.

[19]Drs. H.M. Alisuf Sabri. Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2010)hlm:86

[20][20] Robert  E. Slavin, Op. Cit.,hlm. 106

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 29, 2013 in makalah, psikologi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: