RSS

الإنشاء و أنواعه

29 Apr

INSYA’ DAN MACAM-MACAMNYA

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Balaghah I

Dosen pengampu: H. Mahfudz Sidiq, L.c, M.A.

 

 

Disusun oleh

Siti Hana                     (103211045)

 

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2012

 I.         PENDAHULUAN

Balãghah sebagaimana yang diketahui merupakan ilmu yang mengkaji bagaimana menggunakan bahasa secara efektif, sehingga pembicaraan mutakallim mudah dipahami oleh mukhatab, tidak menimbulkan salah paham, tidak menyinggung perasaan, melainkan terasa santun, menarik, dan bahkan dapat menimbulkan rasa keindahan, sehingga kalâm tersebut memperoleh respon positif berupa perkataan atau perbuatan dari pihak mukhatab sesuai dengan yang dimaui oleh mutakallim.[1]

Balãghah sebagai ilmu pengetahuan, di dalamnya memuat tiga pembahasan yaitu ilmu ma’ãni, bayãn dan badî. Dalam kesempatan ini penulis akan memberikan gambaran mengenai salah satu pembahasan dalam ilmu ma’ãni khusunya mengenai kalãm insyâ. Sebagai pengantar tentunya makalah ini tidak akan berbicara panjang lebar mengenai pembasannya, namun hanya berisi gambaran umum berkenaan dengan kalâm Insyâ dan pembagiannya dalam pembahasan ilmu ma’ãni. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

 II.      RUMUSAN MASALAH

A. Apakah kalâm Insyâ itu?

B. Apa sajakah pembagian  Insyâ itu?

III.   PEMBAHASAN

A.        Pengertian Insya’

Syaikh Ahmad Qolah, dalam kitabnya Taisiiru al Balaaghah, menjelaskan bahwa yang dinamakan insyâ secara bahasa berartiاَلْإِيْجَادُ  yang artinya mengadakan atau mewujudkan. [2]

sedangkan insyâ menurut istilah berarti

مَا لَا يَحْتَمِلُ صِدْقاً وَلَا كِذْباً، كَالْاَمْرِ وَالنَهْيِ وَالْإِسْتِفْهَامِ وَالتَمَنِّي وَالنِدَاءِ وَغَيْرِهَا

“Kalâm insyâ adalah kalimat yang tidak menunjukkan benar atau dusta, seperti perintah, larangan, tanya, harapan, seruan, dan sebagainya”.

 

Kata “إِنْشَاء” merupakan bentuk masdar dari kata “أَنْشَأَ”. Secara leksikal, kata tersebut bermakna membangun, memulai, kreasi, asli, menulis dan menyusun. Dalam ilmu kebahasa-Araban, insyâ merupakan salah satu mata kuliah yang mengajarkan menulis.

Insya’  sebagai kebalikan dari khabari merupakan bentuk kalimat yang setelah kalimat tersebut diturunkan, seseorang tidak bisa menilai benar atu dusta. Hal ini berbeda dengan sifat kalâm khabari yang bisa dinilai benar atau dusta. Dalam terminologi ilmu ma’ani, kalâm insya’i adalah:

اَلْكَلَامُ الْإِنْشَائِى هُوَ مَا لَا يَحْتَمِلُ الصِدْقَ والْكَذْبَ

Artinya:

”Kalâm insya’ adalah suatu kalimat yang tidak bisa disebut benar atau dusta”.

Jika seorang mutakalim mengucapkan suatu kalâm insya’i, mukhatab tidak bisa menilai bahwa ucapan mutakalim itu benar atau dusta. Jika seorang berkata “”, kita tidak bisa mengucapkan bahwa ucapannya itu benar atau dusta. Setelah kalâm tersebut diucapkan, maka yang mesti kita lakukan adalah menyimak ucapannya.[3]

B.        Pembagian  Insyâ

Secara garis besar kalâm insyâ dibagi menjadi dua jenis, insyâ tholabi dan insyâ ghairu tholabi. Adapun yang termasuk dalam pembahasan ilmu ma’ani adalah insyâ tholabi, sedangkan insyâ ghairu tholabi bukan termasuk dalam pembahasan ilmu ma’ani. Maka dalam makalah ini hanya akan dijelaskan mengenai , insyâ tholabi saja.

Insya’ Thalabi

Insya’ thalabi menurut para pakar balâghah adalah:

مَا يَسْتَدْعَي مَطْلُوْباً غَيْرَ حَاصِلِ وَقْتِ الطَلَبِ لِامْتِنَاعِ تَحْصِيْل الْحَاصِلِ وَهُوَ الْمَقْصُوْدُ بِالنَظْرِ هَاهُنَا

Artinya:

“kalâm insya’ thalabi adalah suatu kalâm yang menghendaki adanya suatu tuntutan yang tidak terwujud ketika kalâm itu diucapkan”.[4]

 

Dari definisi diatas tampak bahwa pada kalâm insyâ talabi terkandung suatu tuntutan. Tuntutan tersebut belum terwujud ketika ungkapan tersebut diucapkan. Adapun kalimat-kalimat yang termasuk kategori insyâ talabi adalah:

a.      Amar

Secara leksikal amar bermakna “perintah”. Sedangkan dalam terminologi ilmu balâghah, amar adalah:

طَلَبُ الْفِعْلِ عَلَى الْمُخَاطَبِ عَلَى وَجْهِ الْإِسْتِعْلَاءِ[5]

Artinya:

“Tuntutan mengerjakan sesuatu kepada yang lebih rendah”

Amar mempunyai empat macam redaksi, yaitu fi’il amar, fi’il mudhari’ yang didahului dengan lam amar, isim fi’il amar, dan masdar  yang menggantikan fi’il amar. Contoh:

اَقِمِ الصَلَاةَ لِدُلُوْكِ الشَمْسِ (الإسراء: ۷۸)

Artinya:

Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir…”

حَيَّ عَلَى الصَلَاة …

Artinya:

Mari dirikanlah shalat”

 

b.     Nahi

Secara leksikal nahyu berarti “melarang, menahan, dan menentang”. Dalam terminology ilmu balâghah nahyu adalah:

طَلَبُ الْكَفِّ عَنِ الْفِعْلِ عَلَى وَجْهِ الْإِسْتِعْلَاءِ مَعَ الْإِلْزَامِ[6]

 

Artinya:

“Tuntutan meninggalkan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi disertai dengan paksaan”.

 

Adapun redaksi nahi adalah fi’il mudhari’ yang didahului dengan lã nahiyah. Contoh:

وَلَا تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ ( البقرة : ١۸٨)

Artinya:

“Dan janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan yang batil”

 

وَلَا تَجْلِسْ إِلَى أَهْلِ الدَّنَايَا # فَإِنَّ خَلَائِقَ السُفَهَاءِ تُعْدَى

“Dan janganlah kamu berteman dengan orang yang berselera rendah, karena akhlak orang-orang yang bodoh itu menular”

 

c.      Istifham

Kata “إِسْتِفْهَامْ” merupakan bentuk masdar dari kata “إِسْتَفْهَمَ” yang secara leksikal berarti meminta pemahaman/ meminta pengertian. Secara istilah istifham bermakna:

طَلَبُ الْعِلْمِ بِالشَيْئِ لَمْ يَكُنْ مَعْلُوْمًا مِنْ قَبْلِ[7]

Artinya:

“Menuntut pengetahuan tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui”

 

Kalimah-kalimah yang digunakan dalam istifhâm ialah:

أَ – هَلْ – مَا – مِنْ – مَتَى – أَيَّانَ – كَيْفَ – أَيْنَ – أَنَّى – كَمْ – أَيُّ

مَنْ ذَاالَذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ اِلَّا بِاِذْنِهِ (البقرة: ۲۵۵)

Artinya:

Siapakah yang dapat memberi syafa’at disisi Allah tanpa izin-Nya?”

 

حَتَّامَ نَحْنُ نُسَارِى النَّجْمَ فِي الظُّلَمِ # وَ مَا سُرَاهُ عَلَى خُفٍّ وَلَا قَدَمِ ؟

“Sampai kapan kita bisa mengejar bintang dalam keglapan? Sedangkan perjalanan bintang itu tanpa sepatu dan telapak kaki”

 

d.     Tamanni

Kalimat tamanni (berangan-angan) adalah kalimat yang berfungsi untuk menyatakan keinginan terhadap sesuatu yang disukai, tetapi tidak mungkin untuk dapat meraihnya,[8] seperti:

يَا لَيْتَ لَناَ مِثْلَ مَاأُوْتِيَ قَارُوْنَ إِنَّهُ لَذُوْا حَظٍّ عَظِيْمٍ (القصص: ۷۹)

Artinya:

ingin rasanya kami memiliki apa yang diberikan kepada Qarun. Sesungguhnya dia benar-benar memperoleh keberuntungan yang besar”. (Q.S al-Qashas: 79)

 

Dalam terminologi ilmu balâghah, tamanni adalah:

طَلَبُ أَمْرٍ مَحْبُوْبٍ لَا يُرْجَى حُصُوْلُهُ لِكَوْنِهِ مُسْتَحِيْلًا وَإِمَّا لَكَوْنُهُ مُمْكِناً غَيْرَ مَطْمُوْعٍ فِيْ نَيْلِهِ[9]

Artinya:

“Mengharapkan sesuatu yang tidak dapat diharapkan keberhasilannya, baik karena memang sesuatu itu mustahil terjadi, atau mungkin terjadi namun tidak diharapkan tercapainya”.

 

Adapun kalimah-kalimah yang digunakan dalam tamanni adalah  لَيْتَ.

فَيَا لَيْتَ مَا بَيْنِيْ وَ بَيْنَ أَحِبَّتِيْ # مِنَ الْبُعْدِ مَا بَيْنِى وَ بَيْنَ الْمَصَائِبِ

“Maka alangkah indahnya seandainya jarak antara aku dan kekasihku itu sama dengan jarak antara aku dan musibah-musibah yang menimpaku”

e.      Nidâ

Secara leksikal, nidâ artinya panggilan. Sedangkan dalam terminologi ilmu balâghah, nidâ adalah:

النِدَاءُ هُوَ طَلَبُ الْإِقْلَالِ بِحَرْفِ نَائِبٍ مُنَابُ “أُنَادِيْ” أَدْعُوْ” الْمَنْقُوْلُ مِنَ الْخَبَرِ إِلَى الْإِنْشَاءِ الْإِخْتِصَاصِ

Artinya:

“nidâ adalah tuntutan mutakallim yang menghendaki seseorang agar menghadapinya. Nida menggunakan huruf yang menggantikan lafal “unâdi” atau “ad’ū” yang susunannya dipindah dari kalâm khabari menjadi kalâm insyâi”.

Huruf nidâ itu ada delapan: hamzah (أ), ay (أَيْ), yaa (يَا), aa (آ), aay (آىْ), ayaa (أَيَا), hayaa (هَيَا), dan waa (وَا). Contoh:

يـآأَيُّهَا النَبِيُ اتَّقِ اللهَ … (الأحزاب: ١)

Artinya:

Wahai Nabi! Bertaqwalah kepada Allah …”

 

أَمَالِكَ رَقِّى وَمَنْ شَأْ نُهُ # هِبَاتُ الُّجَيْنِ وَعِتْقُ الْعَبِيْدِ

دَعْوَتُكَ عِنْدَ انْقِطَاعِ الرَّجَا # وَالْمَوْتُ مِنِّى كَحَبْلِ الْوَرِيْدِ

Wahai pemilik kehambaanku, dan (wahai orang yang bertabiat memberikan perak dan memerdekakan hamba.

Aku memanggilmu ketika tidak ada lagi harapan, sedangkan kematian itu bagiku seperti urat nadi”[10]

 

IV.    KESIMPULAN

Kata “إِنْشَاءْ” merupakan bentuk masdar dari kata “أَنْشَأَ”. Secara leksikal, kata tersebut bermakna membangun, memulai, kreasi, asli, menulis dan menyusun. Insyâ disebut juga  اَلْإِيْجَادُ  yang artinya mengadakan atau mewujudkan. Sedangkan dalam ilmu balahgah, Kalâm insya’ adalah suatu kalimat yang tidak bisa disebut benar atau dusta.

Secara garis besar kalâm insya’ dibagi menjadi dua jenis, insyâ tholabi dan insyâ ghairu tholabi. kalâm insya’ thalabi adalah suatu kalâm yang menghendaki adanya suatu tuntutan yang tidak terwujud ketika kalâm itu diucapkan. kalâm insya’ thalabi mencakup amar (perintah), nahi (larangan), istifham (meminta pemahaman), tamanni (harapan), dan nida (panggilan).

 

V.       PENUTUP

Alhamdulillah puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah swt yang dengan Rahmat dan Inayah-Nya makalah ini dapat terselesaikan. Tentunya sebagai manusia biasa dalam menyajikan makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi  isi, sistematika maupun penyampaian. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa penyusun harapkan guna penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhirnya semoga makalah ini bermanfaat. Amin.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al Jarami, ‘Ali dan Mustofa Amin, al Balaghatu al Wadhihatu, li Bayaani wa al Ma’aani wa al Badii’, Jakarta: Sa’adiyah Putra, tt.

——————————————–, terj: Mujiyo Nurkholis, dkk, al Balaghatu al Wadhihatu, li Bayaani wa al Ma’aani wa al Badii’, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2010.

Banna’, Haddam, Al Balãghah fi ‘ilmi al maãnî, tt: Darus Salam, tt.

Hidayat, D, al Balaaghah lil Jami’ wa al Syawaahid min Kalaam al Badii’ (Balaghah untuk Semua), Semarang: Karya Toha Putra & Bina Masyarakat Qur’ani Jakarta, 2002.

Nashif , Hafni Baki, dkk, Kitab Qawãidu al Lughah al ‘Arabiyah, Surabaya: Al-Hidayah, tt.

Pustaka Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT), Syamil Al-Qur’an edisi Ushūl Fiqih, Bandung: Sygma Publishing, 2011.

Qolah, Ahmad, Taisiiru al Balaaghah, Jeddah: al Taba’ah al Tsaniyah maziidah wa munqahah, 1995.

Zaenuddin, Mamat, dkk, Pengantar Ilmu Balaghah, Bandung: Refika Aditama, 2007.

 


[1] D. Hidayat, al Balaaghah lil Jami’ wa al Syawaahid min Kalaam al Badii’ (Balâghah untuk Semua), (Semarang: Karya Toha Putra & Bina Masyarakat Qur’ani Jakarta, 2002), hlm.1

[2] Syaikh Ahmad Qolah, Taisiiru al Balaaghah,(Jeddah: al Taba’ah al Tsaniyah maziidah wa munqahah, 1995), hlm. 23

[3] Mamat Zaenuddin, dkk, Pengantar Ilmu Balâghah, (Bandung: Refika Aditama, 2007), hlm 103

[4] Ibid, hlm. 10

[5] Hafni Baki Nashif, dkk, Kitab Qawãidu al Lughah al ‘Arabiyah, (Surabaya: Al-Hidayah, tt), hlm. 107

[6] Haddam Banna’, Al Balãghah fi ‘ilmi al maãnî, (tt: Darus Salam, tt), hlm. 27

[7] ‘Ali Al Jarami dan Mustofa Amin, al Balaghatu al Wadhihatu, li Bayaani wa al Ma’aani wa al Badii’,(Jakarta: Sa’adiyah Putra, tt), hlm. 194

[8] Mamat Zaenuddin, Op.Cit, hlm. 117

[9]‘Ali Al Jarami dan Mustofa Amin, Op.Cit, hlm. 207

[10] ‘Ali Al Jarami,  dan Mustofa Amin, terj: Mujiyo Nurkholis, dkk, al Balaghatu al Wadhihatu, li Bayaani wa al Ma’aani wa al Badii’, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2010), hlm. 296

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 29, 2013 in balaghah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: