RSS

PENGEMBANGAN MODEL PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DALAM PERSPEKTIF BEHAVIORISTIK

27 Apr

PENGEMBANGAN MODEL PENDIDIKAN KARAKTER
DI SEKOLAH DALAM PERSPEKTIF BEHAVIORISTIK

PAPER
Disusun guna memenuhi tugas Ujian Tengah Semester
Mata kuliah : Psikoligi Pendidikan
Dosen pengampu : Nikmah Rahmawati, M.Si

Disusun oleh:
SITI HANA
(103211045)

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

I.            LATAR BELAKANG

Fenomena dan wacana sisoal yang berkembang akhir-akhir ini menampakkan gejala dikalangan anak muda (khususnya) dan bangsa Indonesia (umumnya) terjadi distorsi dan dekadensi masalah etik dan moral. Gejala dan trend yang tampak dikalangan anak muda menunjukkan bahwa mereka mengabaikan budi pekerti dan tatakrama pergaulan, yang sangat dibutuhkan dalam suatu masyarakat yang beradab.[1] Sejak Indonesia mengalami krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997, kondisi, politik, pertahanan keamanan, lingkungan, HAM, sosial, budaya, moral dan pendidikan cukup memprihatikan. Pada bidang moral memperlihatkan kondisi mental, karakter, budi pekerti, dan akhlak bangsa yang sangat memprihatinkan seperti perilaku yang menyimpang, perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budipekerti luhur, dan perilaku yang seolah-olah tidak ada tatanan hukum positif.[2]

Dikalangan siswa dan generasi muda juga terjadi penyimpangan yang tidak berbudi pekerti luhur seperti geng motor, perkelahian pelajar (tawuran), perkelahian antar mahasiswa, tawuran diantara geng pelajar perempuan, bahkan sampai terjadi free sex dan aborsi. Disisi lain kebijakan pendidikan karakter (pendidikan budipekerti) dalam kurikulum sekolah mengalami pasang surut,[3] kurang menekankan pada pembentukan karakter melainkan lebih menekankan pada pengembangan intelektual, serta kondisi lingkungan yang kurang mendukung pembangunan karakter yang baik.[4]

II.            RUMUSAN MASALAH

Dalam paper ini, penulis terlebih dahulu akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter? dan bagaimana tawaran pengembangan model pendidikan karakter di sekolah terkait dengan teori belajar behavioristik?

III.            PEMBAHASAN

A.    Pendidikan dan Pendidikan Karakter

Pendidikan berasal dari kata me dan didik yang berarti memelihara dan memberi latihan disrtai dengan ajaran. Dalam memelihara dan member latihan diperlukan adanya tutunan dan pmpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.[5] Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “Proses mengubah sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”. Ky Hajar Dewantara mendefinisikan pendidikan adalah “upaya untuk memajukan budipekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya”. Sementara itu makna pendidikan menurut Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 adalah “usaha sadar dan terencana untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak, serta ketrampilan”. Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan, ada tiga aspek yang haus dipenuhi yaitu kognitif (berhubungan dengan pengetahuan dan kecerdasan otak), afektif (berhubungan dengan perasaan) dan psikomotirik (berhubungan dengan keterampilan).

Kemudian mengenai pendidikan karakter, secara harfiyah karakter artinya “Kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi”. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak.[6] Fudyartanta menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah “Pendidikan watak, pendidikan akhlak, pendidikan kepribadian. Pendidikan budipekerti adalah penanaman nilai-nilai baik dan luhur kepada jiwa manusia”. Tujuan pokoknya adalah pembentukan watak, kepribadian, dan perilaku sehingga meliputi ranah afektif dan psikomotorik.[7] Jarolimek menyatakan bahwa “Affective education includes the study of the arts and humanities but it also related to the development of a system of values, attitudes, and beliefs, to the development of character, and to morel development”. Pendidikan afektif itu meliputi seni, humaniora, juga pengembangan karakter dan moral. Pendidikan afektif sendiri mencakup berbagai aktifitas pendidikan yang terkait dengan perasaan dan emosi. Fudyartanta menyatakan bahwa yang menjadi sasaran dasar pendidika budipekrti adalah mendidik dalam arti menuntun perkembangan fungsi cipta, rasa, dan karsa menuju kepada nilai-nilai yang baik dan luhur. Oleh karena itu pendidikan budipekerti lebih kepada domain afektif yang didukung oleh dimain kognitif dan psikomotor.

B.     Pengembangan Model Pendidikan Karakter di Sekolah

Pendidikan diseluruh dunia kini sedang mengkaji kembali perlunya pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter  dibangkitkan kembali. Hal ini bukan hanya dirasakan oleh bangsa dan masyarakat Indonesia, tetapi juga oleh negara maju. Bahkan di negara-negara industri dimana ikatan moral semakin longgar, masyarakatnya mulai merasakan perlunya revival dari pendidikan moral yang pada akhir-akhir ini mulai ditelantarkan.

Tataran implementasi dan realisasi pendidikan perlu diwujudkan dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah secara terpadu. Sudah sewajarnya para pendidik melakukan berbagai usaha dalam melakukan perbaikan pelaksanaan pendidikan budi pekerti untuk mengisi jiwa peserta didik dengan perbuatan yang baik. Penerapan pendidikan budi pekerti tersebut dapat diwujudkan melalui  upaya keteladanan, pembiasaan, pengalaman, dan pengkondisian lingkungan.

a.      Mengintegrasikan pendidikan karakter kedalam materi pembelajaran

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur,  jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (Intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik  (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.[8]

Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkam, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif. Tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari dimasyarakat.[9]

Jika penanaman nilai pendidikan budipekerti dilakukan dengan memasukkan unsur-unsur budipekerti kedalam semua mata pelajaran dan kegiatan pembelajaran disekolah, maka guru memegang peranan yang sangat penting. Dalam kondisi seperti ini, guru harus menciptakan situasi kondusif, juga harus kreatif. Diluar itu perlu ada unsur keteladanan dan konsistensi para pendidik sendiri dalam menyampaikan nilai-nilai budi pekerti luhur dalam seluruh aktifitas sekolah.[10]

b.       Menciptakan budaya dan tradisi sekolah

Sekolah sebagai komuniti merupakan kelompok masyarakat setempat dimana para anggotanya berinteraksi secara terus-menerus telah melahirkan nilai-nilai budaya dan tradisi sekolah. Wujud dari nilai-nilai budaya dan tradisi sebagai bahan ajar pendidikan karakter dapat berupa tuntunan, contoh, larangan, perintah, dan kewajiban bagi semua warga sekolah. Adanya tuntunan, contoh, larangan, kewajiban, dan perintah yang  dijalankan dalam kurun waktu yang lama secara terus-menerus akan melahirkan nilai-nilai budaya dan tradisi dalam lingkungan sekolah, sehingga sekolah menjadi suatu komuniti yang memiliki lingkungan budayanya sendiri.[11]

Nilai-nilai karakter di lingkungan sekolah dapat diwariskan melalui kegiatan kurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler secara terintegrasi, terpadu, dan melembaga serta dapat diciptakan semacam ’upacara tradisi’ menurut versi sekolah. Dalam hal ini Kepala sekolah dan guru  dapat berperan menjadi teladan, sebagai orang tua, pendidik, pengayom, dan pengendali terhadap struktur dan proses sosial yang terjadi di sekolah. Peranan  kepala sekolah dan semua guru seperti ini akan menjadi penentu efektif tidaknya pendidikan karakter di lingkungan sekolah.[12] Dengan demikian pendidikan karakter tidak hanya menjadi sekedar wacana, malinkan juga dipahami secara utuh dan menyeluruh oleh seluruh civitas akademika yang ada disekolah. Kemudian hal ini juga ahrus didukung oleh masyarakat yang ada diluar lembaga pendidikan seperti keluarga, lingkungan, masyarakat umum dan tentunya negara.

IV.            ANALISA

Morgan, dkk. Memberi definisi mengenai belajar “Learning can be defined as any relatively permanent change in behavior which occurs as result of practice or experience”. Belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku (change in behavior of performance) yang berarti setelah belajar, individu mengalami perubahan dalam perilakunya. Perilaku dalam arti luas dapat berupa overt behavior atau inert behavior. Karena itu perubahan tersebut dapat dalam segi kognitif, afektif maupun psikomotor.[13]

Dalam teori belajar menurut aliran behaviorisme dibedakan (1) teori belajar asosiatif dan (2) teori belajar fungsionalis.

1)      Teori belajar asosiatif adalah teori belajar yang semula dibangun oleh Pavlov yang melalui pecobannya menyimpulkan bahwa perilaku dapat dibentuk melalui kondisioning atau kebiasaan.[14]

2)      Teori belajar fungsionalis dipelopori oleh Thorndike dan Skinner. Thorndike menyatakan bahwa dalam belajar terdapat tiga hukum pokok: law of readiness (hukum kesiapan), law of exercise (hukum latihan), dan law of disuse (hukum efek). Sedangkan Skinner menyatakan bahwa dalam belajar dipengaruhi oleh adanya reinforcement (penguat).[15]

Dalam kaitannya mengenai pendidikan karakter, penulis lebih cenderung kepada teori belajar yang dikemukakan oleh Pavlov yang dinyatakan bahwa perilaku dapat dibentuk melalui kondisioning atau kebiasaan.

Penerapan pendidikan karakter disekolah melalui upaya keteladanan, pembiasaan, pengalaman, dan pengkondisian lingkungan, kiranya akan lebih efektif karena dalam metode ini  pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif melainkan juga dipahami secara utuh dan menyeluruh oleh seluruh civitas akademika yang ada disekolah tanpa menafikan aspek pokok yang harus dipenuhi dalam pendidikan, yaitu mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

V.            PENUTUP

Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan penulis kenikmatan sehingga mampu menyelesaikan paper ini dengan lancar. Penulis menyadari dalam pembuatan paper ini masih banyak terdapat kekurangan baik teknis penulisan maupun materi, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan guna perbaikan paper dan karya tulis selanjutnya, khususnya dari dosen pengampu Psikologi Pendidikan, Ibu Nikmah Rahmawati, M.Si. Harapan penulis, semoga paper yang sederhana ini bisa bermanfaat bagi penulis pribadi dan juga para pembaca, Amin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Baharuddin, Pendidikan & Psikologi Perkembangan, Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2010, cet.II

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga.  Jakarta: Balai Pustaka, 2005.

Hidayatullah, Furqon, Pendidikan karakter: Membangun Peradaban Bangsa,Surakarta: Yuma Pustaka, 2010.

Muchlis, Masnur, Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensi, Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010.

Ruyadi, Yadi, Model Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal, Makalah, disampaikan dalam “Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join Conference UPI & UPSI, Bandung, Indonesia”, 8-10 November 2010.

Walgito, Bimo, Pengantar Psikologi Umum,Yogyakarta: ANDI, 2004

Zuriah, Nurul,  Pendidikan moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008


[1]Dra. Nurul Zuriah, M.Si, Pendidikan moral dan Budi Pekerti dalam Perspektif Perubahan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), cet.II, hlm. 174.

[2]Dr. Yadi Ruyadi, M.Si, Model Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Budaya Lokal, Makalah, disampaikan dalam “Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education; Join Conference UPI & UPSI, Bandung, Indonesia”, 8-10 November 2010. hlm 1.

[3] Ibid.

[4]Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd. Pendidikan karakter: Membangun Peradaban Bangsa,(Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), hlm.15.

[5] Muhibbinsyah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), cet. XV, hlm. 10.

[6] Prof. Dr. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., Op. Cit, hlm.12.

[7] Dr. Yadi Ruyadi, M.Si, Op.Cit, hlm. 4.

[8] Masnur Muchlis, Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 85

[9] Ibid, hlm. 86.

[10] Dra. Nurul Zuriah, M.Si, Op. Cit. hlm. 180.

[11] Dr. Yadi Ruyadi, M.Si,Op. Cit, hlm. 12

[12] Ibid.

[13] Prof. Dr. Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum,(Yogyakarta: ANDI, 2004), hlm.167-168.

[14] Ibid, hlm. 171.

[15] Prof. Dr. H. Baharuddin, M.Pd.I, Pendidikan & Psikologi Perkembangan, (Jogjakarta: Ar-Ruz Media, 2010), cet.II, hlm.167 dan 169.

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 27, 2013 in makalah, psikologi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: