RSS

مكان الإستعارة من البلاغة

27 Apr

nilai isti’arah

KEDUDUKAN ISTI’ARAH DALAM BALAGHAH

MAKALAH

Dipresentasikan dalam mata kuliah

Balaghah II

Dosen pengampu : H. Mahfudz Siddiq, LC, MA

Disusun Oleh:

Siti Hana                                   103211045

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

TAHUN 2013

I.              PENDAHULUAN

Al-Bayân secara etimologi berarti penyingkapan, penjelasan dan keterangan. Sedangkan secara terminologi, ‘Ilm al-bayân mrupakan ilmu untuk mengetahui tentang cara mendatangkan satu pengertian yang dimaksud dengan perkataan yang sesuai dengan tuntutan keadaan dan dengan gaya bahasa yang berbeda dalam menjelaskan maksudnya. Mayoritas ahli balaghah sepakat bahwa kajian Ilmu bayan memuat tiga pokok bahasan, yaitu (1) uslȗb al-tasybȋh (gaya bahasa smile/ penyerupaan), (2) uslȗb al-majȃz  (gaya bahasa metafora), (3) uslȗb al-kinȃyah (gaya bahasa metonimie). Dan masih ada yang lain yaitu uslȗb al-istiȃ’arah (peminjaman kata), dan uslȗb al-ta’rȋd.

Setelah mempelajari uslȗb al-tasybȋh (gaya bahasa smile/ penyerupaan), uslȗb al-majȃz  (gaya bahasa metafora), dan uslȗb al-istiȃ’arah (peminjaman kata), pada kesempatan kali ini akan diulas beberapa hal mengenai kedudukan uslȗb al-istiȃ’arah (peminjaman kata) dalam balaghah. Semoga makalah sederhana ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

II.           RUMUSAN PEMBAHASAN

A. Bagaimana kedudukan isti’arah dalam balaghah?

B. Apa Saja Nilai-nilai Keunggulan Isti’arah?

III.        PEMBAHASAN

A.    Kedudukan Isti’arah Dalam Balaghah

Istiârah adalah majâz dimana hubungan antara makna asli dengan makna kiasan bersifat hubungan ke-serupa-an.[1] Isti‘ârah merupakan salah satu dari bentuk tausi’ (perluasan makna) dan majâz (pengkiasan makna), ia juga merupakan salah satu karakteristik dari fashâhah dan balaghah umum yang kembali pada pembahasan makna.

Ketika para sastrawan meneliti antara uslȗb majȃz, tasybȋh, isti’ȃrah dan kinȃyah, didapatkan bahwa kesemuanya merupakan tiang dan rukun i’jȃz yang diperankan oleh balȃghah sehingga menimbulkan keutamaan dan keistimewaan. Mereka juga menjadikan uslȗb majȃz, dan isti’ȃrah sebagai materi utama dalam pembahasan ilmu balȃghah .[2]

Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Qahir al-Jarjanji bahwa keistimewaan yang menyeluruh pada isti‘ârah adalah bahwasanya ia mampu memberikan penjelasan dalam bentuk yang nyata yang memberikan nilai tambah dan memberikannya keutamaan setelah adanya keutamaan. Dan anda akan menemukan satu lafal yang memberi banyak faidah sehingga anda akan menyangka ia sebagai hal yang diulang-ulang dalam beberapa tempat, dan baginya disetiap tempat memiliki bagian dan keutamaan sendiri.

Konsep isti‘ârah sebenarnya bermuara dari bentuk gaya bahasa tasybîh, dan gaya bahasa isti‘ârah adalah ungkapan tasybîh yang paling tinggi.[3] Jika pada uslȗb al-tasybȋh musyabah dan musyabah bih-nya ditampakkan, sedangkan dalam uslȗb al-istiȃ’arah dengan membuang salah satu dari dari musyabah atau musyabah bih-nya.

Dalam kajian balaghah, isti’arah memiliki nilai yang lebih besar daripada tasybȋh balȋgh, karena tasybȋh yang balȋgh sekalipun disusun atas anggapan bahwa musyabah dan musyabah bih-nya sama, namun tasybih-nya tetap disengaja dan terlihat. Berbeda dengan isti‘ârah yang padanya tasybȋh diabaikan serta tersembunyi.[4]

B.     Nilai-nilai Keunggulan Isti’arah

Sebagaimana diketahui, nilai balaghah suatu uslȗb dapat diukur berdasarkan dua kriteria, yaitu kriteria fashâhah dan kriteria kesesuaian dengan muqtadhol hâl. Berdasarkan dari prinsip ini, jika nilai balâghah suatu tasybîh diukur oleh seberapa jauh kecermatan mutakallim dalam memilih musyabah bih yang mampu mengungkap makna atau keadaan musyabah dengan jelas sehingga dapat dipahami oleh pembaca tanpa menimbulkan salah pengertian, maka nila balâghah suatu isti‘ârah dapat diukur dari beberapa segi, diantaranya:

  1. Nilai isti‘ârah dilihat dari segi penyusunannya

Penyusunan isti‘ârah yang hanya menampakkan salah satu dari musyabah atau musyabah bih-nya membuat kalȃm isti‘ârah bersifat ȋjaz (ringkas padat makna). Namun meski demikian hal ini tidak membuat pembaca bingung, bahkan justru ia dapat memperoleh informasi tambahan.[5] Seperti contoh-contoh dalam isti‘ârah tashrihiyah. Penggunaan kata (لِبَاسٌ)[6] mengingatkan peran saling melindungi, saling pengertian, demi terciptanya hubungan yang harmonis antara suami istri dalam kehidupan berumah tangga.

Melalui isti‘ârah tamtsiliyah, makna yang abstrak menjadi konkrit sebagaimana penggambaran orang murtad dan mukmin sejati, masing-masing digambarkan sebagai (مَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ) dan (اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى). Dan melalui isti‘ârah makniyah (majas personifikasi), maka makna menjadi hidup, imajinasi dibangkitkan.

  1. Nilai isti‘ârah dari segi lafaz-nya

Nilai isti‘ârah dari segi lafaz-nya adalah bahwa susunan kalimatnya seakan-akan tidak mengindahkan tasybîh, namun mengharuskan kita untuk menghayalkan suatu gambaran baru yang keindahannya memalingkan kita dari kandungan kalimat berupa tasybîh yang terselubung.

Contoh ungkapan Al-Buhturi tentang Al-Fath bin Khaqan;

يَسْمُوْ بِكَفٍّ عَلَى الْعَافِيْنَحَانِيَةٍ g تَهْمِيْ وَطَرْفٍ إِلَى الْعِلْيِاءِ طَمَّاحٍ

Artinya; “Ia menjadi tinggi dengan telapak tangan yang lemah lembut, dan mengalir kepada orang-orang yang menghendaki kebaikan, dan dengan mata yang tekun mencari keluhuran”.

Pada ungkapan ini “telapak tangan” dikhayalkan dalam bentuk awan tebal yang mencurahkan air hujannya yang deras kepada orang-orang yang mengharapkannya. Sehingga gambaran seperti ini telah menguasai perasaan kita sehingga melupakan tasybîh yang terkandung dalam kalimat.

Perhatikan pula ungkapannya ketika meratapi kematian Al-Mutawakkil yang tewas karena dibohongi;

صَرِيْعٌ تَقَاضَاهُ اللَّيَالِى حُشَاشَةً g يَجُوْدُ بِهَا وَالْمَوْتُ حُمْرٌ أَظَافِرُهُ

Artinya; “Orang yang terkapar itu menghabiskan malam-malamnya (dengan hembusan-hembusan nafas terakhirnya), sedangkan maut itu kuku-kukunya merah berlumuran darah.”

Dari contoh ini maka tidak dapatlah kita menghilangkan dari khayalan kita gambaran kematian yang menakutkan, yaitu binatang buas yang kuku-kukunya merah berlumuran darah karena binatang lain yang dibunuhnya.

Oleh karena itu, nilai isti‘ârah dalam balȃghah lebih besar daripada tasybȋh balȋgh karena tasybȋh yang balȋgh itu sekalipun disusun atas anggapan bahawa musyabah dan musyabah bih-nya sama, namun tasybih-nya tetap disengaja dan terlihat. Berbeda dengan isti‘ârah yang padanya tasybȋh diabaikan serta tersembunyi.[7]

  1. Nilai isti‘ârah dilihat dari segi rekayasa dan keindahan

Adapun nilai isti‘ârah dilihat dari segi rekayasa dan keindahan berilusi dan pengaruhnya dalam jiwa para pendengarnya adalah adanya kesempatan yang leluasa untuk berkreasi dan adanya arena lomba bagi para pakar sastra. Sebagaimana disepakati oleh para kritikus sastra sejak dulu, bahwa nilai suatu karya antara lain terletak pada kreatifitasnya dalam memilih kata-kata serta dapat membangkitkan imajinasi dan rasa keindahan pada diri pembaca.[8]

Hal ini bisa dilihat dari firman Allah swt. Dalam menggambarkan neraka memalui surat Al-Mulk ayat 8;

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ . كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌ

Artinya; “Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?”

Dari ayat tersebut maka akan tergambar dibenak kita wujud neraka dalam bentuk makhluk yang besar, kejam, angker wajahnya, muram, dan bergejolak dadanya karena mendendam marah.

Kemudian perhatikan ucapan Abu ‘Atiyah dalam memberi ucapan selamat kepada Al-Mahdi setelah menjadi khalifah;

أَتَتْهُ الْخِلاَفَةُ مُنْقَادَةً إِلَيْهِ تُجَرِّرُ أَذْيَالَهَا

Artinya; “Jabatan kekhalifahan datang duduk kepadanya dengan menyeret ekor-ekornya”.

Dari ungkapan diatas didapatkan bahwa jabatan kekhalifahan sebagai seorang wanita lembut dan halus, serta perayu yang memabukkan, dan menjadikan fitnah bagi seluruh manusia. Ia menolak dan senantiasa berpaling dari mereka. Akan tetapi ia datang kepada Al-Mahdi dengan patuh, manja dan mesra sambil menarik kain selendangnya karena hormat dan penuh rasa rendah hati.

Lalu perhatikan pula ucapan Asy-Syarif Ar-Ridha tentang perpisahan;

نَسْرِقُ الدَمْعَ فِي الْجُيُوْبِ حَيَاءً g وَبِنَا مَا بِنَا مِنَ الْأَشْوَاقِ

Artinya; “Aku menyembunyikan air mataku dikantong baju karena malu, dan juga kerinduan dalam hatiku”.

Sang penyair menyembunyikan air matanya sehingga ia tidak dicela sebagai orang yang lemah dalam menghadapi perpisahan. Meski sebenarnya ia dapat menyatakan dengan “Nasturu ad-dam’a fil-juyuubi hayaa’an”, akan tetapi ia hendak mencapai puncak ketinggian dalam menyajikan keterangan karena Nasriqu (Aku menyembunyikan) itu menggambarkan dalam khayalmu ketakutannya yang sangat terhadap diketahuinya kelemahan dirinya, dan menggambarkan kemahiran dan kecepatannya menyembunyikan air mata dari pengawasan pengelihatan orang lain.

IV.        KESIMPULAN

Dalam kajian balaghah, isti’arah memiliki nilai yang lebih besar daripada tasybȋh balȋgh, bahkan gaya bahasa isti‘ârah adalah ungkapan tasybîh yang paling tinggi. Keistimewaan yang menyeluruh pada isti‘ârah adalah bahwasanya ia mampu memberikan penjelasan dalam bentuk yang nyata yang memberikan nilai tambah dan memberikannya keutamaan setelah adanya keutamaan.

Nilai-nilai keunggulan isti‘ârah dapat dilihat dari beberpa segi, diantaranya (1) Penyusunan isti‘ârah yang hanya menampakkan salah satu dari musyabah atau musyabah bih-nya membuat kalȃm isti‘ârah bersifat ȋjaz (ringkas padat makna), namun tidak mengurangi kejelasan maknanya, (2) Nilai isti‘ârah dari segi lafaz-nya adalah bahwa susunan kalimatnya seakan-akan tidak mengindahkan tasybîh, namun mengharuskan kita untuk menghayalkan suatu gambaran baru yang keindahannya memalingkan kita dari kandungan kalimat berupa tasybîh yang terselubung, (3) nilai isti‘ârah dilihat dari segi rekayasa dan keindahan berilusi dan pengaruhnya dalam jiwa para pendengarnya adalah adanya kesempatan yang leluasa untuk berkreasi dan adanya arena lomba bagi para pakar sastra.

V.           PENUTUP

Demikian makalah yang dapat pemakalah sajikan. Kekurangan dan kelemahan dalam makalah adalah suatu keniscayaan dan menjadi sifat dasar manusia yang jauh dari sempurna. Maka, masukan, sanggahan, dan kritik konstruktif sangat penulis harapkan demi perbaikan makalah ini di masa mendatang.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

عبد العزيز عتيق، علم البيان، (بيروت: دار النهضة العربي، ١٩٨٥)، ص. ١٩٦

Bakrî Syaikh Amîn, al-Balâghah al-‘Arabiyah fî Tsaubihâ al-Jadîd al-Bayân, juz.II, (Beirut: Dâr ‘Ilm li al-Malâyîn, 1995), h. 114

Al Jarami,  ‘Ali, dan Mustofa Amin, al Balaghatu al Wadhihatu, li Bayaani wa al Ma’aani wa al Badii’,(Jakarta: Sa’adiyah Putra, tt), hlm. 146

Hidayat, D. al Balaaghah lil Jami’ wa al Syawaahid min Kalaam al Badii’ (Balâghah untuk Semua), (Semarang: Karya Toha Putra & Bina Masyarakat Qur’ani Jakarta, 2002), hlm.128

Huda, Ibnu Samsul Obyek Kajian Ilmu Balaghah, http://ibnusamsulhuda.wordpress.com/2010/11/02/obyek-kajian-ilmu-balaghah/, diunduh Kamis, 11 April 2013 (05.51 WIB)


[2]  الدكتور عبد العزيز عتيق، علم البيان، (بيروت: دار النهضة العربي، ١٩٨٥)، ص. ١٩٦

[3] Bakrî Syaikh Amîn, al-Balâghah al-‘Arabiyah fî Tsaubihâ al-Jadîd al-Bayân, juz.II, (Beirut: Dâr ‘Ilm li al-Malâyîn, 1995), h. 114

[4] ‘Ali Al Jarami dan Mustofa Amin, al Balaghatu al Wadhihatu, li Bayaani wa al Ma’aani wa al Badii’,(Jakarta: Sa’adiyah Putra, tt), hlm. 146

[5] D. Hidayat, al Balaaghah lil Jami’ wa al Syawaahid min Kalaam al Badii’ (Balâghah untuk Semua), (Semarang: Karya Toha Putra & Bina Masyarakat Qur’ani Jakarta, 2002), hlm.126

[6] QS. Al-Baqarah (2); 187

[7] ‘Ali Al Jarami dan Mustofa Amin, al Balaghatu al Wadhihatu, li Bayaani wa al Ma’aani wa al Badii’,(Jakarta: Sa’adiyah Putra, tt), hlm. 146

[8] D. Hidayat, Op.Cit, hlm. 128

14.00

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 27, 2013 in balaghah, makalah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: